Lihat ke Halaman Asli

Sulfiza Ariska

Penulis lepas dan pecinta literasi

Kartini, Guru Bangsa yang Menginspirasi Sepanjang Masa

Diperbarui: 21 April 2022   20:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber foto: alviankosim.com

Judul: Gelap-Terang Hidup Kartini
Penulis : Tim Tempo
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Bulan/Tahun Terbit: April, 2017
Cetakan: Pertama
Tebal: xii + 157 halaman
Harga buku: Rp 60.000
ISBN: 978-602-424-349-4
Penyunting: Leila S. Chudori

Gelap Terang Hidup Kartini (GTHK) adalah buku yang berani! Berkisah tentang kehidupan Kartini yang sarat dengan perjuangan emansipasi. Membaca GTHK akan meneguhkan eksistensi Kartini di hati kita sebagai salah seorang Guru Bangsa yang menginspirasi sepanjang masa.

Tokoh Emansipasi yang Cinta Membaca dan Menulis


Kartini lahir pada 21 April 1879 dengan nama Raden Adjeng Kartini dan dikenal sebagai tokoh emansipasi. Ia merupakan putri Bupati Jepara, RMA A Sosroningrat dan Ngasirah. Sejak kecil, Kartini memperlihatkan kecerdasan intelektual dan kerendahan hati yang memikat. 

Tidak hanya pada masa remaja dan dewasa, tetapi sejak kecil ia telah bersikap kritis dan memberontak tirani feodalisme yang menjajah perempuan; melalui jalan bergaul dengan seluruh kalangan masyarakat, cerewet, tertawa terbahak-bahak, sehingga dipanggil Trinil dan dijuluki kore (kuda liar).

Sebagaimana perempuan pada masa kehidupannya, Kartini dihambat untuk menempuh pendidikan tinggi. Sejak usia 12 tahun, ia terpaksa menjalani pingitan atas nama adat. Kendati tidak berpendidikan tinggi, Kartini terus belajar secara mandiri, sehingga daya intelektualitas dan keahliannya terus berkembang pesat. Ia mempelajari dunia dengan jalan membaca buku-buku yang dipinjamkan kakaknya, Sosrokartono. 

Selain itu, ia memanfaatkan kotak bacaan langganan ayahnya yang berisi buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri. Literatur yang dibaca Kartini meliputi kajian sosial, politik, budaya, dan sastra. Kecintaannya pada membaca membentangkan sayap-sayap imajinasinya dan memperluas cakrawala pemikirannya.  

Selain membaca, Kartini juga gemar menulis. Pesona intelektualitas Kartini dalam tulisan, tercermin dalam surat-surat untuk sahabat pena yang sebagian besar perempuan berjiwa progresif dan bermukim di luar negeri. Melalui surat-surat tersebut, Kartini menyampaikan pendapatnya dan berdiskusi dengan para sahabat pena tersebut. 

Sebagian surat-surat tersebut, setelah kematiannya, dikumpulkan dan diterbitkan sebagai sebuah buku dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Dalam Door Duisternis tot Licht mendokumentasikan pemikiran dan renungan filosofis Kartini yang mencakup kesetaraan gender, budaya, bahaya feodalisme, dan hubungan antarbangsa.  

Selain surat-surat, pesona inteletualitas Kartini dalam tulisan, bersinar pula di media dan jurnal berbahasa Belanda. Tulisan-tulisan tersebut kaya dengan perenungan dan riset antropologis. Mulai dari tata cara perkawinan sampai seni batik. Konon untuk alasan keamanan, tulisan-tulisan tersebut dipublikasikan tanpa mencantumkan nama Kartini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline