Lihat ke Halaman Asli

irvan sjafari

TERVERIFIKASI

penjelajah

Ini Kisah Pernikahan Ramah Lingkungan dari Garut

Diperbarui: 18 Juli 2024   10:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Acep Luman Nul Hakim dan pasnagannya-Foto: Koleksi Acep Lukman Nur Hakim

Kesadaran generasi Z terhadap lingkungan di sejumlah negara bukan hanya pada gerakan konservasi,  tetapi juga pada gaya hidup. Mereka bukan hanya bicara, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk menikah saja sejumlah pasangan memilih pesta yang ramah lingkungan.   

Pada 14 April 2024 Acep Lukman Nur Hakim, seorang aktivis lingkungan dari Garut menerapkan pernikahan ramah lingkungan. Alumni Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini mengaku terinspirasi dari sebuah workshop Eco family class di mana ada satu tema yang dinamakan ecowedding.

Patriot Desa dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jawa Barat ini  dan pasangannya membuat persiapan sejak enam bulan sebelumnya.

Pertama Acep dan pasanganya Cucu Sopiah Kartika menggelar pernikahan di rumah, Jalan Mustofa Kamil, Garut dan  bukan di gedung.  Undangan selain cetak juga undangan via web. Mereka menyewa pakaian pengantin dan bukan membeli. 

Sementara untuk dekorasi bunga yang digunakan adalah bunga hidup, yang setelah pernikahan masih bisa digunakan lagi untuk hiasan dan setelah layu dijadikan kompos.

"Kami juga tidak menggunakan balon untuk dekorasi  karena itu merusak lingkungan, termasuk juga souvenir ramah lingkungan," kata peraih #SDGCertifiedLeader  ini ketika saya hubungi, 17 Juli 2024.

Untuk  resepsi, Acep dan pasangannya memakai cara prasmanan dengan piring dan gelas kaca, tidak menggunakan Styrofoam, menggunakan besek dan centong. Yang terpenting lagi, mereka meminta para tamu untuk menghabiskan makanan.  Selain itu ada tempat sampah untuk yang organik dan non organik.

"MC menyerukan para tamu untuk mengambil makan secukupnya dan mengingatkan pada saudara di Palestina yang masih kelaparan," ujar Acep seraya mengatakan menyelipkan edukasi pemilahan sampah pada para tamu di sela pesta pernikahan.

Sisa makanan pernikahan yang masih layak dibagikan kepada  keluarga sekitar atau tetangga yang belum hadir. Resepsi juga menggunakan botol plastik tetapi dibuang pada tempat yang sudah disediakan. 

"Alhamdullilah kami meninggalkan  sampah anorganik sebanyak 7 kilogram dan dijual Rp19.250. Sampah organik lima ember dibuat kompos, sampah kertas  sebanyak 0,5 kg  dijual Rp250, sampah kaleng 0, 3 kg  dan ketika dirupiahkan Rp3.150 dan sampah karangan bunga dijadikan kompos," ungkap Acep.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline