Bagaimana opini Anda menanggapi sikap aparat, media, dan masyarakat dalam fenomena kasus prostitusi online ini? Demikian pertanyaan dari Kompasiana yang sebetulnya sudah pernah saya tulis beberapa waktu yang silam, menyangkut kasus yang nyaris sebangun dengan sekarang dan secara umum jawaban kira-kira sama.
Saya hanya mengupdate perkembangan terbaru karena ini pertama menyangkut Vanessa Angel, artis yang pernah saya wawancarai sekitar delapan atau sembilan tahun yang silam. Ketika ia itu kesan saya polos dan ramah. Pada waktu itu saya mendengar cerita dari ayahnya, bahwa Vanessa dibesarkan dengan orangtua yang single parent, tanpa ibu.
Menjadi ayah single parent sebetulnya lebih berat dari ibu yang menjadi single parent. Begitu juga dengan anak yang dibesarkan dengan ayah single parent kondisi psikologisnya berbeda dengan sebaliknya. Kecuali kalau kakak perempuan sudah besar, bisa menjadi pengganti ibu.
Perlu penelitian psikolog lebih dalam. Tapi psikolog yang pernah saya wawancarai, seingat saya bilang kalau ada pengganti ayah dari paman untuk ibu yang orangtua tunggal dan pengganti ibu untuk ayah yang orangtua tunggal anak bisa normal. Bagaimana kalau tidak?
Kedua, saya memakai kata pekerja bukan profesi. Saya baru ngeh, hal ini penting setelah di Facebook seorang senior yang juga dosen di sebuah Fakultas Ilmu Komunikasi di Bandung mengingatkan antara pekerja dan profesi berbeda. Mereka yang terlibat di dunia prostitusi tidak layak profesi. Senior saya itu kecewa masih ada wartawan yang memakai kata profesi untuk pelacur atau prostitusi.
Saya mulai dari artisnya dulu. Artis yang bekerja sambilan menjadi pelacur atau prostitusi bukan hal yang baru. Cerita itu sudah saya dengar sewaktu menjadi mahasiswa pada 1980-an dan lebih rinci lagi sewaktu menjadi wartawan pada 1990-an.
Kemudian sejak sudah kenal perpustakaan jadi tahu bahwa affair antara pejabat dengan artis sudah ada sejak 1950-an. Bukan hal yang baru.
Hanya saja cara mucikari memasarkan berbeda, karena pada masa lalu belum ada teknologi. Tetapi substansinya sama karena didesak oleh gaya hidup. Celakanya, gaya hidup era milenial ini makin meningkat, karena perlu tampil dengan tas branded atau swafoto di tempat wisata, untuk Instagram dan semacam dan itu adalah eksistensi.
Salah dong kalau itu, artisnya atau perempuannya untuk mengejar gaya hidup melibatkan diri di dunia prostitusi. Oh, tidak. Siapa yang mengkonstruksi pikiran mereka bahwa tampil dengan tas branded atau baju branded harga jutaan itu keren. Ya, kapitalisme. Siapa yang dominan di kapitalisme, ya laki-laki atau patriarki. Lah, bagaimana bisa terkonstruksi, kan media juga yang mengkonstruksi, termasuk media untuk perempuan.
Satu-satunya kesalahan perempuan dalam hal ini ialah (sebagian) mereka sendiri juga tunduk pada budaya patriarki dan kapitalisme. Padahal mampu melawannya, seperti artis itu. Padahal wacana kemandirian perempuan mudah didapat dari internet (yang memang budaya literasi lemah). Itu saya tanya dalam tulisan saya sebelumnya yang saya kutip di sini
Perempuan dalam memilih suami juga kerap mempertimbangkan secara materi harus di atas dirinya (sekali pun dia juga perempuan karir dan mampu mandiri secara ekonomi). Lebih banyak mana perempuan yang menggugat cerai karena suaminya mengalami kesulitan ekonomi atau tidak mampu memberi nafkah atau karena melawan hegemoni laki-laki seperti melakukan "Kekerasan Dalam Rumah Tangga?" (KDRT). Jangan lupa perempuan penggemar Cinderella Syndrome, seperti Pretty Women, Telenova dengan pria kaya sebagai orang baik dan penyelamat memperkukuh hal itu.
Jarang saya lihat perempuan kaya bersuami kan pria yang miskin dan baik hati. Berapa banyak perempuan yang ingin seperti Katniss, tokoh dalam The Hunger Games atau prior dalam Divergent yang merdeka?