Lihat ke Halaman Asli

Julius Deliawan

https://www.instagram.com/juliusdeliawan/

Galian dan Perubahan Sosial

Diperbarui: 18 Februari 2018   14:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

solopos.com

Menggali adalah kebutuhan bagi masyarakat modern. Karena tingkat kebutuhan akan informasi tinggi, dan kebutuhannya serba instan. Melalui menggalilah kebutuhan mereka akan internet, TV berbayar, telpon, listrik, gas, air dapat sampai di rumah mereka. Sehingga wajar jika kegiatan menggali menjadi agenda rutin Jakarta. Pelakunya beragam, dan sepertinya masing-masing bekerja mandiri. Sebab jika galian yang satu selesai di gali dan ditutup, selalu ada penggali-penggali lain yang melakukannya lagi.

Setiap hari dari seluruh ruas jalan yang ada di Jakarta ini, tak ada yang bebas dari galian. Musim berganti;  dari musim hujan hingga hujan lagi, jalan sebagian ditutup demi kepentingan menggali sepertinya benar-benar tak terhentikan.  Buruh menggali yang setiap pagi berbaris di beberapa ruas jalan, menanti pengguna jasanya, laris manis. Tak perlu keahlian spesifik, yang penting mampu mengayunkan cangkul, selesai. Inilah yang membuat Jakarta kebanjiran kaum urban, mereka ahli menggali.

Trotoar di bagusin, jalanan berlubang di tambal. Di mata penggali itu semua tak ada artinya. Tugas mereka adalah menggali, belum belajar menutupnya lagi seperti semula. Lagian itu adalah tugas pemda, begitulah barangkali yang ada di kepala bos-bos mereka. Sehingga hampir dapat dipastikan, bekas galian tak pernah kembali bagus seperti semula.  Ada baiknya juga, setidaknya proyek padat karya selalu menyediakan lahan untuk dapat dikerjakan. Ekonomi jadi terdistribusi, rakyat kecil yang hanya bisa menggali pun akan senantiasa mendapat limpahan rejeki. Meski hanya dapat dipakai guna mempertahankan siklus hidup di Jakarta. Untuk anak istri di kampung, tunggu jika ada galian sampingan.

Pengguna jalan lain, 'harap maklum' mendapati jalanan mereka di gali. Para pembayar pajak ini harus mengalah . Hasilnya nanti mereka juga yang menikmati. Internet , TV, gas, listrik dan  lain-lain. Asal ingat saja ; tidak gratis ! Karena gali menggali juga tidak gratis. Impaslah. Meski biaya menggali mungkin belum menutupi biaya immaterial pengguna jalan yang terganggu dan perbaikannnya. Tetapi hasil dan proses kebudayaan tidak selalu harus diukur dengan uang kan? Galian membawa masyarakat pada perubahan kultur, menjadi masyarakat modern. Jadi ada baiknya menggali harus selalu terlihat di Jakarta ini, kan kota modern.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline