Lihat ke Halaman Asli

Jovita Claudia

Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan UNEJ

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Hijau Melalui Inovasi Teknologi Keuangan yang Berkelanjutan di Indonesia

Diperbarui: 10 November 2023   16:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Teknologi  Keuangan. Sumber: PEXELS

Penulis: Jovita Claudia Winata

KELEMAHAN ekonomi konvensional sering disadari telah memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, dalam arti cenderung mengabaikan risiko jangka panjang pada sumber daya alam Indonesia. 

Sistem ekonomi konvensional masih mempertahankan pemikiran konservatif tanpa memperhitungkan biaya eksternal yang mungkin timbul dari pelbagai kegiatan perekonomian di masyarakat Indonesia khususnya. Sebagai langkah solutif, pakar ekonomi mulai memperhatikan bagaimana tindak lanjut mitigasi risiko melalui transformasi ekonomi yang dimaksudkan menjadi model ramah lingkungan. 

Bagaimana upaya Indonesia?

Seperti yang diberitakan, bahwa Indonesia telah menganjurkan perencanaan ekonomi hijau sebagai salah satu strategi utama transformasi ekonomi jangka menengah dan panjang guna mempercepat pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19 dan mendorong terciptanya pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. 

Salah satu bentuk ekonomi hijau yang akan diterapkan adalah pemberlakuan kebijakan carbon pricing dalam bentuk carbon cap and trading, serupa dengan sistem pajak karbon, pada tahun 2023. Menko Airlangga Hartarto juga menjelaskan peran pembiayaan sangat penting. Hal ini penting untuk mengisi kesenjangan pendanaan dalam mendorong ekonomi hijau. 

Pemerintah telah meluncurkan instrumen keuangan inovatif untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Green Sukuk. Pada 2019, Pemerintah juga mendirikan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup. Bank Indonesia selaku otoritas moneter juga tengah berupaya mendorong inklusi keuangan melalui insentif kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); kredit usaha rakyat (KUR); serta pendanaan pada ekonomi-keuangan hijau.

Mengapa Green Sukuk?

Peluang penerbitan green sukuk di Indonesia dilandasi oleh pemahaman akan pentingnya inisiatif alternatif pembiayaan berkelanjutan bagi pembangunan infrasruktur. 

Hal ini pada tahap selanjutnya akan menimbulkan keberadaan “investor-investor baru”, mereka hanya akan berinvestasi pada pelbagai instrumen dari investasi dengan kategori “hijau”. Green sukuk sendiri dinilai dapat menjadi cara yang tepat dan amat menjanjikan dalam kegiatan investasi pada proyek-proyek dengan embel-embel ramah lingkungan, terutama jika melihat sasaran utamanya yang notabene adalah sebuah pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline