Lihat ke Halaman Asli

Hati-hati Membeli Rumah Susun di Lahan Negara, Jangan Sampai Jadi Korban seperti Kami

Diperbarui: 17 Juni 2015   11:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

14240434511061143290

[caption id="attachment_351336" align="aligncenter" width="300" caption="Dok Pribadi"][/caption]

Salah satu kebutuhan umat manusia  yang sangat mendesak saat ini   adalah memiliki tempat tinggal,  Rumah/Condo/Apt/Rusun berfungsi  sebagai tempat untuk berkumpul dengan keluarga dan juga tempat bercengkrama maupun istirahat setelah seharian beraktifitas di luar.

Rumah adalah istanaku, rumah adalah tempat beristirahat bersama istri/suami dan anak, rumah juga berfungsi sebagai sarana investasi yang sangat menguntungkan di kemudian hari. Kebutuhan akan tersedianya rumah bagi keluarga-keluarga muda, maupun bagi sebahagian besar Keluarga yang berimigrasi ( berpindah) dari kota besar ke kota lainnya, tentu menjadi salah satu bisnis besar bagi sang Taipan ( pengusaha), untuk mengembangkan satu kawasan menjadi lahan hunian.

Pengembangan suatu kawasan menjadi lahan hunian dan bisnis, kini menjadi primadona di Indonesia, hal ini terjadi, oleh karena jumlah penduduk Indonesia setiap tahun semakin meningkat, juga konsentrasi lapangan pekerjaan masih didominasi di pulau jawa, tentu hal  membuat setiap anak-anak muda dari berbagai pelosok tanah air, migrasi ke pulau Jawa, dan Jakarta adalah tujuan utama para perantau ini untuk mengadu nasib.

Bagi saya pribadi, Jakarta adalah rumah saya, sejak jalan Thamrin masih banyak pohon pisang saya sudah bermain disana, sehingga lahan-lahan kosong di Jakarta cukup banyak yang saya  ketahui seperti apa, semisal pembangunan lahan di Kawasan kelapa gading, dimana pada tahun 70an adalah daerah resapan air, pun demikian dengan daerah Jakarta utara, namun sejak tahun 80an sudah berubah menjadi daerah real estates, dan kita melihat seperti apa kawasan ini saat hujan besar beberapa hari lalu.

Kembali ke judul tulisan saya diatas, adalah pengalaman pahit yang kami alami sendiri, kelalaian atas pembelian satu unit di salah satu Rumah susun, di kawasan Pramuka Jakarta pusat, menjadi beban pikiran yang akan makan waktu cukup lama, mengapa? Karena untuk mendapatkan selembar kertas, dengan judul Sertifikat hak guna bangunan bisa bisa gagal total.

Lahan  Rumah susun, pengembang sebut Apartment ( biar keren kali ya) The  Green Pramuka adalah lahan yang akan saya uraikan , walau sang pengembang sudah sering saya tegur jangan pernah menggunakan nama Apartment, karena izin yang didapat dari Pemerintah adalah satuan rumah susun namun tetep aje sebutin apartment. Lahan ini sejatinya adalah milik Kementerian Perhubungan / PT. Angkasa Pura. Dulu lahan ini juga berfungsi sebagai ATC ( Air trafic control) (halo-halo dari Burung besi dengan anak jakarte dibawah ) Bandara Kemayoran, maupun lahan berdirinya tower  kurus kering mirip seperti tiang pemancar radio.

Akan tetapi Setelah Bandara Udara Kemayoran berpindah ke Halim Perdana Kusuma, selanjutnya ke Cengkareng Tanggerang, fungsi lahan ini berubah menjadi lahan hijau, artinya lahan terbuka, kadang digunakan sebagai lapangan golf bagi petinggi Kementerian Perhubungan, juga digunakan untuk jual keramik dari Chungko tahun 80an.

Dari berbagai literatur yang saya baca, lahan ini berubah fungsi mulai tahun 2007, izin penggunaan lahan dari Instansi terkait turun kesalah satu pengembang, selanjutnya dimulailah pembebasan lahan hingga berdirinya gedung pertama di kawasan ini dengan nama Tower Faggio, sekitar tahun 2009, yang terletak di ujung jalan sebelah barat yang berdekatan dengan sungai kecil sebagai gedung pertama.

Berhubung lokasi lahan Negara ini sangat strategis, terletak di tengah kota, akses transportasi jalan layang sangat dekat, minat masyarakat Indonesia tentu tinggi untuk membelinya, walaupun banyak pembeli hanya menjadikan lahan Investasi semata. Pengembang dengan berbagai trik marketing sukses besar menjual unit perdana, sehingga pembangunan Tower berikutnya lancar bagaikan jalan tol tanpa macet.

Namun pengembang lupa akan kewajibannya untuk melakukan pengelolaan secara profesional, pengembang mendirikan perusahaan pengelola sebagai sister company, AND inilah yang  menjadi asal muasal persoalan dalam mengelola satuan rumah susun ini.  Pengelola merasa dia berkuasa untuk mengelola, mereka lupa bahwa tower by tower sudah dibeli oleh masyarakat umum.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline