Lihat ke Halaman Asli

J.A Pakpahan

Penulis/penyair/pembaca puisi

Elegi Rindu

Diperbarui: 13 April 2022   20:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

ElEGI RINDU

Aku di titik jenuh , terjatuh tanpa ada satupun yang merangkul
setiap kata yang terucap terkadang mendustai kenyataan
terbuang lalu terkapar,,
hanya menunggu kapan kehancuran datang

sudah terlanjur lelah menjadi badut untuk diri sendiri
tertawa di saat pilu nyata tanpa obat.
percuma!

tidurku hanya sekejap mata terpejam ,mencoba dengan banyak cara untuk sambut pagi
tapi nyatanya ,semua berlalu pergi

entah aku ini pecundang,atau mungkin aku yang terlambat sadar
bawasannya menjadi dewasa itu menakutkan
terlalu berharap sebuah kebahagian
tapi fakta menyatakan aku terluka, aku tersiksa
pura-pura bahagia itu menyakitkan 

begitu banyak dusta terjadi
begitu banyak fakta yang ternodai dari sebuah imajinasi
entah kapan semua berakhir

aku hanya peran
dari setiap skenario yang di buat Tuhan padaku
jika Tuhan bosan ,di situlah aku berhenti menghibur 

di saat itu terjadi ,di situlah aku berhenti menjadi badut
Dan bahagia di awal kehidupan yang baru 

Dunia terlalu kejam
Untuk diriku yang kerdil
Aku ingin pulang bu, peluk aku sebentar saja, aku lelah.

Aku ingin ibu meraba lembut lagi kepalaku
Aku rindu , tapi Tuhan lebih sayang padamu
Sehingga aku pulang pun ,tangan keriputmu tak lagi kugapai bu.

Lihatlah bu,rumahmu sudah aku bangun begitu megah
Semoga ibu nyaman, dirumah  yang baru.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline