Lihat ke Halaman Asli

"Lucy", Ketika Manusia Mencapai "Pencerahan"

Diperbarui: 17 Juni 2015   19:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

14144878881146526362

Sebuah film "action sci-fi" yang sangat menarik untuk disimak, dibintangi oleh artis sexy Scarlett Johansson. Awalnya terasa aneh dan membosankan, karena pada awalnya terasa seperti film murahan, setiap adegan disisipkan tayangan edukasi ala nasional geografi yang mungkin kurang nyambung bagi kebanyakan orang. Tapi setelah 30 menit film melaju, segala sesuatunya berubah menjadi mengasikan.
Yang menarik pada film ini adalah.. ilmu pengetahuan dan filsafat yang diceritakan pada film ini mengadopsi ajaran agama tertentu (mungkin memang demikian). Manusia memang pada dasarnya belum mampu menggunakan seluruh kapasitas otaknya. Ketika seseorang mencapai kapasitas lebih tinggi daripada kebanyakan orang, dia akan menemukan berbagai hal yang tidak diketahui oleh orang awam. Dalam ajaran beberapa agama, pencapaian ini bisa menggunakan cara meditasi/semedhi. Tapi dalam film ini disimbolkan dengan obat-obatan.

Dalam ajaran agama tertentu (tidak akan saya sebutkan agama apakah itu supaya tidak disebut rasis), persis dalam kitab sucinya disebutkan bahwa pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Akan menjadi dan mengalami apakah kita di masa depan ditentukan oleh pikiran kita saat ini. Pikiran yang buruk akan menghasilkan musibah dan pikiran yang baik akan mendatangkan berkah.

Pencapaian level tertentu ini tidak menjadikan seseorang menjadi orang baik. Banyak orang-orang tertentu dengan pencapaian level "tanggung/middle" bisa menjadi seseorang yang jahat, contohnya dukun santet, hipnotis dan sebagainya. Ketika pada level "tanggung" ini, manusia mendapatkan beberapa kemampuan tertentu seperti yang diceritakan pada film ini. Ketika Lucy mencapai level diantara 20-30%, dia mampu merasakan gerakan organ tubuhnya, membaca pola pikir orang lain dan sebagainya.

Pada saat seseorang mencapai level tertinggi (100%) pada saat itulah dia mencapai pencerahan. Dia memahami segala sesuatu yang ada di semesta, dia dapat mengakses segala informasi dan dia lenyap menyatu dengan alam semesta atau bahasa kerennya "dia ada dimana-mana". Pada level tertinggi, manusia sudah tidak lagi menjadi orang jahat atau orang baik karena dia sudah mengetahui dan menjadi bagian dari segala apa yang ada di semesta ini.

Keren kan? Semua pokok pemikiran atau filsafat tersebut sudah ada dalam kitab suci Agama X yang sudah tertulis lebih dari 2500 tahun yang lalu, karena "Kebenaran adalah Ilmu Pengetahuan".

Salam damai selalu,

Jimmy Lobianto

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline