Lihat ke Halaman Asli

Jihan Mawaddah

Knowledge seeker

Menjaga Lingkungan dari Limbah Domestik, Kelola Sampah Jadi Rupiah

Diperbarui: 6 Februari 2024   10:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya bersama team Payung Literasi Malang mengunjungi Bank Sampah Malang (dok.pri)

"Dulu banyak banget yang mencibir dan menghina saya. Katanya kayak pemulung. Kok mau-mau banget ngumpulin sampah di rumah. Tapi sekarang, alhamdulillaah banyak yang mencari saya, menukar sampahnya dengan tabungan. Lumayan lah untuk sangu lebaran." (Efrida Hartini, pegiat Bank Sampah Kota Malang).

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2019 lalu, jumlah sampah kita mencapai 68 ton yang terdiri dari 57% sampah organik, 15% sampah plastik, 11% sampah kertas dan 17% sampah lainnya.

Sebanyak 5000 lebih unit bank sampah yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di seluruh Indonesia menunjukkan penurunan jumlah sampah hingga satu juta ton pertahun. Untuk mengurangi tumpukan sampah ini, harapannya masyarakat harus sudah mulai memisahkan dan mengelompokkan sampah, organik maupun anorganik.

Bayangkan, di kota saya dulunya ada empat tempat penampungan sampah dari seluruh penjuru kota. Namun saat ini yang masih bisa menerima sampah untuk dikelola hanya satu saja, yakni TPA Supit Urang. Jika pola kita sebagai masyarakat tidak berubah dalam hal pengelolaan sampah ini, bukan tidak mungkin TPA Supit Urang juga akan tutup sebagaimana TPA-TPA lain di kota-kota besar Indonesia.

Meneladani Bank Sampah Eltari, Kelola Sampah Jadi Rupiah

Gagasan pengelolaan sampah melalui Bank Sampah ini dulu pernah dipopulerkan oleh salah seorang dokter yang berhasil mendapatkan undangan King Charles di Inggris tentang inovasinya untuk melayani masyarakat di bidang kesehatan melalui Bank Sampah.

Jadi sampah-sampah yang dikumpulkan lalu dipilah oleh masyarakat, boleh ditukarkan dengan pengobatan atau pemeriksaan kesehatan gratis di Klinik milik dr. Gamal Albinsaid, seorang dokter asli Malang yang ternyata saat itu juga pernah magang di Bank Sampah Malang di bawah bimbingan Bu Efrida Hartini, salah satu pengelola Bank Sampah Malang.

Akhir Januari lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti walking tour di Bank Sampah Malang yang terletak persis di belakang Pom Bensin Sukun dan bersebelahan dengan Makam Londho.

Bu Efrida Hartini menjelaskan alur sistem Bank Sampah Malang (dok.pri)

Kami disambut baik oleh Bu Efrida Hartini sebagai salah satu pengelola Bank Sampah Kota Malang dan saat ini tengah mengelola Bank Sampah yang didirikan di rumahnya, yakni Bank Sampah Eltari.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline