Lihat ke Halaman Asli

Jaka Santana

Tech Enthusiast

Kreativitas dan Rokok

Diperbarui: 14 Januari 2021   08:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

medium.com/personal-growth

Apabila sedang terlihat buntu ketika bekerja, teman saya itu mulai mengeluarkan rokok andalannya, Esse Shuffle Pop. Dibakarnya satu batang, dengan tidak lupanya membuka pintu samping yang ke arah luar (tempat menaruh jemuran dan pompa air). Dibuka supaya asapnya tidak mengumpul di dalam ruangan, soalnya saya kadang tidak kuat menghisap asap rokok.

Berbeda dengan rokok lainnya yang biasa dia hisap, kalau dia merokok Esse Shuffle pop itu, aroma rokoknya tidak terlalu mengganggu saya yang tidak suka merokok ini. Jadi supaya saya tidak menggerutu terus dan dia tetap bisa merokok, maka dipilihlah rokok yang politis, di mana saya tidak terganggu dan dia tetap bisa merokok.

Kalau sudah waktu istirahat siang, dia biasanya pamit keluar dengan alasan mau ibadah Sholat, padahal saya tau dia mau menghisap beberapa batang rokok dulu. Kalau ada alasan mau sholat, dia bisa menghisap rokok dan tetap istirahat untuk makan atau lainnya.

Pantesan perokok di kantor saya pada rajin sholat semua, ternyata supaya bisa merokok dulu.

Kalau sudah waktunya tiba bekerja kembali, dan mulai harus memikirkan plan atau strategi, pasti mukanya mulai uring-uringan, dan saya tau, dia mau merokok. Katanya kalau merokok ide-ide bisa keluar begitu saja, saya sih engga begitu percaya, soalnya bukan perokok, dan kalau saya, perlu benar-benar refreshing untuk bisa memikirkan ide kreatif.

Walaupun saya merokok, tapi rokok menjadi teman saya sehari-hari, karena banyak teman saya yang perokok. Mereka masih muda-muda, rokoknya pun bervariasi, mulai dari rokok yang sangat keras, sampai yang sangat ringan.

Beberapa orang yang perokok berat tapi tidak bisa merokok di dalam ruangan, memilih untuk menghisap vape, sebagai subtitusi untuk kebutuhan rokoknya, dengan dalih kalau tidak merokok tidak akan bisa bekerja, sehingga akhirnya bos saya itu memperbolehkan vape di dalam ruangan.

Tapi jadinya seperti sedang berada di kawasan yang terkena bencana kebakaran hutan, soalnya isi ruangan jadi berasap semua.

Teman saya itu memilih merokok yang lebih ringan, walau harus merogoh isi dompet lebih banyak, tapi karena kualitas dan rasanya yang bikin dia betah. Dan juga karena alasan ada beberapa anak di kantor yang tidak kuat menghirup asap rokok yang berat-berat itu.

Pilihan dia tertuju pada Esse rasa atau aroma Shuffle Pop, kalau kata dia sih alasannya karena rasanya lebih beragam. Tak peduli apa kata orang, yang penting selera dan penampilan. Juga ketika dibawa meeting ke tempat client yang kebetulan suka merokok juga, kalau membawa rokok ini tidak bikin malu.

Kalau kata dia sih.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline