Lihat ke Halaman Asli

Jafar amir

jabatan terakhir sebagai kepala pabrik keramik, pendidikan S2 di bidang manajemen,

Ngemil di negara Berkembang

Diperbarui: 28 Januari 2025   11:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Analisis Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Beberapa penelitian telah mengeksplorasi pola dan implikasi ngemil di negara berkembang, menyoroti tantangan nutrisi dan intervensi potensial.

Di Filipina, sekitar 70% anak-anak mengonsumsi camilan setiap hari, terutama di sore hari. Camilan umum termasuk kue kering, kue, roti, kerupuk, biskuit, dan minuman manis. Camilan ini berkontribusi secara signifikan terhadap asupan energi harian, terutama di kalangan anak-anak yang lebih kecil (Serafico et al., 2023).

Di sebuah desa pedesaan di Jawa Barat, Indonesia, anak-anak mengonsumsi berbagai makanan ringan, yang berkontribusi signifikan terhadap asupan lemak dan energi harian mereka. Namun, camilan ini menyediakan vitamin dan mineral yang terbatas, yang berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi dan stunting (Sekiyama et al., 2012).

Dampak Gizi:

Di Filipina, makanan ringan menyumbang sebagian besar asupan energi harian dan menyediakan nutrisi penting seperti protein, vitamin A, zat besi, dan kalsium. Namun, ada kebutuhan untuk mempromosikan pilihan camilan yang lebih sehat untuk meningkatkan kualitas makanan secara keseluruhan.

Di Indonesia, konsumsi makanan ringan yang tinggi berkorelasi dengan rendahnya asupan nutrisi penting seperti karbohidrat dan vitamin C, dan dikaitkan dengan rendahnya skor "tinggi badan VS usia" di antara anak-anak sekolah (Sekiyama et al., 2012).

Perbedaan Budaya dan Regional:

Di Kolombia, transisi pangan mencakup pergeseran menuju peningkatan konsumsi makanan ringan, yang bervariasi secara signifikan di berbagai wilayah dan dipengaruhi oleh pola makan local (Quintero-Lesmes & Herran, 2019).

Di El Salvador, iklan makanan ringan dan minuman sering mempromosikan makanan olahan berkalori tinggi, berkontribusi pada perubahan pola makan dan peningkatan risiko kesehatan (Amanzadeh et al., 2015).

Rekomendasi untuk Kebijakan dan Intervensi

Promosikan Camilan Sehat:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline