Lihat ke Halaman Asli

Overall Equipment Effectivitas (OEE) Mengukur Kinerja mesin

Diperbarui: 4 April 2017   17:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bisnis. Sumber ilustrasi: PEXELS/Nappy

Overall Equipment Effectivitas (OEE)

Overallequipment effectivitas (OEE) merupakan produk dari six big losses pada mesin/peralatan. Keenam factor dalam six big losses dapat di kelompokkan menjadi tiga komponen utama dalam OEE untuk di gunakan dalam mengukur kinerja mesin/peralatan yakni’; downtimes losses,speed losses dan defect losses

OEE merupakan ukuran enyeluruh mengendentifikasikan tingkat produktivitas mesin/peralatan dan kinerja secar teori. Pemgukuran ini samngat penting untuk mengetahui area mana yang perlu untuk di tngkatkan produktivitasmaupun effisiensi mesin/peralatan dan dapat juga meunjukkan are bottleneck yang terdapat padalintasan produksi.OEE juga merupakan alat ukur untuk mengevaluasi dan memperbaiki cara yang tepat untuk menjamin peningkatan produktivitas penggunaan mesin/peralatan.

Formula matematis dari overall equipment effectiveness (OEE) di rumuskan sebagai berikut :

OEE = Availability X Perpormance efficiencyX Rate of qualityproduct X 100%

Kondisi operasi mesin/peralatan produksi tidak akan akurat di tunjukkan jika hanya didasari oleh perhitungan satu factor saja, Misalnya performance effiseincy saja. Dari enam pada six big losses baru minor stoppages saja yang di hitung padaperformance efficiency mesin/peralatan. Ke enam factor data six big losses harus di ikutkan dalam penghitungan OEE, kemudian kondisi aktusal dari mesin/peralatan dapat dilihat secara akurat.

Availability

Availability merupakan rasio operation time terdapat waktu loading time nya, sehingga dapat menghitung availability mesin di butuhkan nilai dari:

a.Operation time

b.Loading time

c.Downtime

Nilai availability di hitung dengan rumus sebagai berikut:

Avaibility = Operation times /Loading times x 100%.

Avaibility = Loading times - down times /loading times x 100%

Loading time adlah waktu yang tersedia (avaibility) per hari atau per bulan di kurang dengan waktu down time direncanakan (planed downtime)

Planned down time = Total avaibility – Planned downtime

Planned down time adalah jumlah waktu downtime mesin untuk pemeliharaan (scheduled maintenance) atau kegiatan management lainya.

Operation time merupakan hasil pengurangan loading dengan waktu down time(non operation time),dengan kata lain operation time adalah waktu operasi tersedia (avaibility time)setelah waktu downtime mesin keluarkan dari total avaibility time yang di rencanakan , Down time mesin adalah waktu proses yang seharusnya digunakan mesin akan tetapi karena adanya gangguan pada mesin/peralatan (equipment failures) mengakibatkan tidak ada output yang di hasilkan downtime meliputi mesin berhenti beroperasi akibat kerusakan mesin/peralatan , penggatian cetakan (dies), pelaksanaan prosedur set-up dan adjustment dan lain lainya.

Perpormance Efficiency

Perpormnace efficiency merupakan hasil perkalian dari operation speedrate dan net operation rate, atau rasio kuantitas produk yang di hasilkan di kalikan dengan waktu siklus idealnya terhadap waktu yang tersedia yang melakukan prosesn produksi (operation time)

Operation speed rate merupakan perbandingan antara kecepatan ideal mesin berdasarkan kapasitas mesin sebenarnya (theoretical/ideal cycle time) dengan kecepatan actual mesin (actual cycle time) .Persamaan matematikanya di tunjukkan sebagai berikut :

Operation speed rate = Ideal cycle time /Actual times

Net Operation rate = Actual prosessing time/Operation time

Net operatiaon rate merupakan perbandingan antara jumlah produk yang di proses (processes amount) dikali actual cycle time dengan operation time. Net operatioanj time menghitung rugi-rugi yang diakibatkan oleh minor stoppages dan menurunya kecepatan produksi ( recuced speed)

Tiga factor penting yang di hubutuhkan untuk menghitung perpormance efficiency :

1.ideal cycle (waktu siklus ideal/waktu standar)

2.Processed amount (jumlah produk yang di proses)

3.Operation time (waktu operasi mesin)

Performance efficiency dapat di hitung sebagai berikut :

Performance efficiency = net operating x operating cycle time

Processed amount x Actual cycle time /Operaton time  x Ideal times/Actual time

Performance Effesiensi = Processed Amount x Ideal cycle times/Operatin times x100%



Rate of quality prtoduct

Rate of quality poduct adalah rasio jumlah yang lebih baik terhadap jumlah total produk yang di proses. Jadi rate of quality produk adalah hasil perhitungan dengan menngunakan dua factor berikut:

a.Processed amount (jumlah produk yang di proses)

b.Defect amount (jumlah produk yang cacat)

Rate of quality product dapat di hitung sebagai berikut :

Rate quality product = Proses amount -  Defect /Processed amount x 100%

Diagram Sebab Akibat (Cause and Effect Diagram)

Diagram ini dikenal dengan istilah diagram tulang ikan (fish bone diagram) di perkenalkan pertama kalinya pada tahun 1943 oleh Prof.Kaoru Ishikawa (Tokyo Unifersity). Diagram ini berguna untuk menganalisa dan menemukan factor factor yang berpengaruh secara signifikan terhadap penentuan karakteristik kualitas output kerja.Dalam hal ini metode sumbang saran akan cukup efectife digunakan untuk mencari factor factor penyebab terjadinya penyimpangan kerja secara detail.

Untuk mencari factor factor penyebab terjadinya penyimpangan kualitas hasil kerja maka, ada lima factor penyebab utama yang signifikan yang perlu di perhatikan yaitu :

1.Manusia (man)

2.Metode kerja (work method)

3.Mesin atau peralatan kerja (machine/equipment)

4.Bahan baku (raw material)

5.Lingkungan kerja (work environment)

Jetta Anwar Sijabat




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline