Lihat ke Halaman Asli

Isson Khairul

Journalist | Video Journalist | Content Creator | Content Research | Corporate Communication | Media Monitoring

Harry Tjahjono 70 Tahun, Sejak Selamat Tinggal Duka

Diperbarui: 5 Februari 2024   20:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Harry Tjahjono, Si Doel Anak Sekolah, Keluarga Cemara, dan Harta Berharga. Foto: Isson Khairul


Hari ini, Harry Tjahjono ulang tahun. Ia lahir 5 Februari 1954 di Madiun, Jawa Timur. Saya menyapanya, Mas Harry.

Selamat ulang tahun, Mas Harry
Spirit hidup yang senantiasa Mas tebarkan, sangat mengesankan
Teruslah menjadi cahaya
untuk negeri yang sama-sama kita cintai ini

Senior yang Saya Hormati

Mas Harry adalah sosok senior yang saya hormati. Saya pertama kali mengenal namanya dan karyanya, tahun 1978. Ketika itu, cerita bersambung-nya Selamat Tinggal Duka dimuat di majalah Gadis, media dalam korporasi Femina Group, Jakarta.

Masa itu, saya murid SMA Negeri 1 Pariaman, Sumatera Barat. Saya menyimak karya Mas Harry, sebagai wahana belajar. Di masa SMA itu, saya aktif menulis puisi, cerita pendek, artikel, dan laporan jurnalistik di Harian Haluan dan Harian Singgalang. Itu dua media lokal yang terbit di Padang, Sumatera Barat.

Tahun 1980, Selamat Tinggal Duka dijadikan film layar lebar. Skenarionya ditulis oleh Sjuman Djaya dan disutradarai oleh Sukarno M. Noor. Film itu dibintangi oleh Tino Karno & Rano Karno, juga artis cantik Yessy Gusman. Film tersebut disambut hangat, terutama oleh para remaja yang telah membaca cerita bersambung-nya di majalah Gadis.  

Tahun 1981, ketika saya mulai studi di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta, barulah saya melihat sosok Mas Harry secara langsung. Ia kerap nongkrong di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, bersama senior-senior saya dari kampus STP. Antara lain, Remy Soetansyah, Syamsudin Noer Munadi, dan Lazuardi Adi Sage. Alfatihah, ketiganya sudah wafat.

Tahun 1982, artikel saya mulai dimuat di majalah Gadis. Cerita pendek saya mulai dimuat di majalah Anita Cemerlang. Dan, tulisan jurnalistik saya mulai dimuat di Harian Sinar Harapan. Di berbagai event sastra, musik, dan film, saya hampir selalu melihat Mas Harry.

Sungguh, saya masih sungkan menyapa Mas Harry. Padahal, dengan Remy Soetansyah, Syamsudin Noer Munadi, dan Lazuardi Adi Sage -misalnya- saya leluasa ngobrol. Agaknya, kekaguman saya kepada Selamat Tinggal Duka, yang membuat saya sungkan. Bahkan, berkali-kali bertemu di Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan, tetap saja saya sungkan untuk ngajak ngobrol Mas Harry.

Tahun 1987, saya mulai bekerja secara organik sebagai jurnalis di majalah Gadis. Beberapa kali Mas Harry datang dan beberapa kali kami berpapasan. Kadang di lobi, kadang di lift. Saya menyalaminya, lalu bertegur-sapa. Sebagian besar tim kerja majalah Gadis dan majalah Femina pada masa itu, mengenal Mas Harry dengan baik. Tetap saja saya sungkan untuk ngajak ngobrol Mas Harry.

Selama bertahun-tahun, kami nyaris tak pernah bertatap-muka lagi. Tapi, sebagai sosok senior yang saya hormati, saya selalu mengikuti aktivitas Mas Harry. Antara lain, melalui laman facebook-nya. Ada satu masa, Mas Harry boyongan ke Madiun. Saya mengenal suasana Stasiun Madiun dan Pasar Gede Madiun, ya dari berbagai postingan Mas Harry.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline