Lihat ke Halaman Asli

Isnaini Khomarudin

editor lepas dan bloger penuh waktu

Ciptakan Aplikasi Bahasa Tolaki, Ikhtiar La Ode Mursalim Lestarikan Bahasa Daerah

Diperbarui: 13 Maret 2023   20:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Anak-anak suku Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara (Foto: Korchnoi Pasaribu)

"ENAK YA KAMU, Rudi, bisa bicara beberapa bahasa berbeda!" ujar seorang teman bule asal Belgia suatu siang di pinggiran kota Semarang. Wajahnya jelas menyiratkan antusiasme sekaligus kekaguman pada saya dan seorang teman perempuan yang akan ia peristri.

Percakapan siang itu berlangsung dalamf tiga bahasa: Inggris, Indonesia, dan Jawa. Saat obrolan berjalan tiga arah, maka kami bercakap dalam bahasa Inggris. Adapun saya dan teman lebih sering bertukar omongan dalam bahasa Indonesia dan tentu saja bahasa Jawa bahasa ibu kami.

Takjub pada bahasa daerah

Teman bule tersebut takjub atas penguasaan bahasa kami sebab menurut penuturannya mereka tak punya bahasa ibu di Belgia. Tak ada yang namanya bahasa Belgia sebagaimana kita mengenal bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di Nusantara.

Sehari-hari mereka berinteraksi dalam tiga bahasa resmi yaitu Belanda, Perancis, dan Jerman. Itu pun tidak semua orang menguasainya, termasuk bule ini yang lebih menguasai bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

Matanya mungkin akan terbelalak seandainya mengetahui bahwa Indonesia memiliki setidaknya 718 bahasa daerah (menurut UNESCO) yang dipakai oleh ribuan suku (dan subsuku) dari Sabang hingga Merauke. Jadi selain bahasa Jawa yang ia kagumi, masih ada bahasa Minang, Sunda, Madura, Bugis, Banjar, Aceh, dan masih banyak lagi dengan kosakata yang unik dan kaya.

Bahasa daerah terancam punah

Maka miris betul ketika kita membaca berita di CNN Indonesia bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merilis 25 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah.

Ancaman kepunahan itu konon akibat penuturnya sudah berusia 20 tahun ke atas dan jumlahnya cukup sedikit. Malangnya lagi, bahasa-bahasa lokal tersebut tidak lagi digunakan oleh generasi tua saat bercakap kepada anak-anak tapi lebih banyak dipakai dengan usia sebaya mereka.

Semangat lestarikan  bahasa daerah (Gambar: arts.gov.au)

Bahasa daerah yang terancam punah antara lain Sangihe Talaud dari Sulawesi Utara, bahasa Konjo dari Sulawesi Selatan, bahasa Bajau Tungkai Satu dari Jambi, bahasa Lematang dari Sumatera Selatan, bahasa Minahasa dan bahasa Gorontalo Dialeg Suwawa dari Gorontalo.

Untuk mengatasi fenomena ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek mengadakan Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai bagian dari program Merdeka Belajar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline