Lihat ke Halaman Asli

ISJET @iskandarjet

TERVERIFIKASI

Storyteller

Agen Asuransi itu Profesi, Bukan Kerja Sambilan

Diperbarui: 24 Juni 2015   03:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya masih ingat. Persis setelah gagal jadi penjual mobil, saya coba lagi peruntungan di dunia jualan dengan menjadi agen asuransi. Waktu itu jalurnya lewat lowongan kerja. Namanya juga masih baru lulus kuliah, saya tidak tahu apa dan bagaimana asuransi. Pokoknya begitu lihat ada lowongan jadi agen, saya langsung mendaftar.

Bayangan waktu itu, jadi agen sama dengan jadi sales pada umumnya. Ada target jualan. Digaji bulanan. Ternyata bayangan gaji buyar dengan seksama begitu tahu bahwa agen itu gak digaji. Pendapatannya murni didapat dari hasil jualan. Itulah sebabnya potongan biaya atas premi di tahun pertama sangat besar, antara lain untuk membayar jasa marketing yang dilakoni si agen tadi. Setelah mengikuti pelatihan tiga hari, saya mundur teratur. Bukan karena tidak digaji, tapi lebih karena, lagi-lagi, gak sukses jualan.

Tapi dari situ saya jadi paham soal asuransi. Lebih tepatnya asuransi berbasis syariah.

Lompat sekian tahun kemudian, atau tepatnya tahun lalu, saya ditawari jadi agen oleh saudara yang waktu itu sukses menawarkan produk asuransi pendidikan berbasis syariah untuk anak ketiga. Tapi karena sudah kadung nyemplung di bidang media dan informasi, dan lagi semangat-semangatnya mengembangkan kemampuan di media sosial, saya memilih untuk tidak masuk, sambil mendorong istri untuk mencobanya.

Menjadi agen, berdasarkan informasi yang saya dapat selama ini, jauh dari kesan kerja sambilan. Ada target yang harus dikejar. Ada tim yang harus dibentuk. Ada pelayanan terhadap pelanggan yang harus dipenuhi dan ditangani dengan teliti dan penuh kesabaran. Semakin banyak klien, semakin besar tanggungjawabnya. Semakin banyak agen yang berhasil direkrut, semakin banyak juga kerja yang harus dituntaskan. Mulai dari memotivasi dan membimbing tim, sampai memastikan setiap tim bekerja sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Meskipun tidak digaji, tidak masuk daftar karyawan, tapi agen tak ubahnya sebuah profesi yang menuntut keseriusan dan kerja keras. Ini adalah perpaduan antara jualan dan MLM. Gabungan antara mencari nasabah dan membentuk tim kerja. Semakin besar omset yang dihasilkan oleh tim, maka semakin tinggi jenjang karir yang didapat. Pada saat itulah target yang harus dicapai semakin besar, agar karir semakin tinggi lagi.

Saat satu kali mengantar istri yang saat ini sudah jadi agen resmi ke satu sesi pertemuan di timnya, saya mendapati bahwa pimpinan tim itu, yang sudah meraih jabatan tertinggi di jenjang karir keagenan asuransi Prudential, sudah memiliki sebuah kantor di gedung bertingkat di kawasan Rasuna Said. Kantor itu bukan representasi perwakilan Prudential, tapi satu dari sekian banyak tim agen penjualan yang beroperasi di Jakarta. Dia meniti karir dari bawah sebagai agen biasa, sampai akhirnya memiliki omset dan penghasilan besar yang menuntutnya untuk membentuk kantor operasional sebesar itu.

Orang asuransi bilang, menjadi agen adalah satu cara untuk berkarir secara mandiri. Bebas menentukan jam kerja. Tidak terikat aturan perusahaan yang menetapkan delapan jam ngantor.

Tapi pada prinsipnya, menjadi agen adalah pilihan dalam mendapatkan penghasilan. Sama baiknya dengan pilihan menjadi pengusaha atau karyawan. Kalau hanya dijadikan sambilan, maka jenjang karir yang didapat akan cenderung jalan di tempat. Bahkan mati di tengah jalan, yang pada akhirnya merugikan pembeli polis yang notabene adalah orang-orang terdekat si agen.

Bagaimana tidak. Ketika seorang agen tidak lagi aktif atau mengundurkan diri, urusan administrasinya akan dialihkan ke agen lain yang belum tentu dia kenal. Ketika ada klaim, boleh jadi akan muncul masalah karena kedekatan antara agen dan pembeli polis jadi berjarak.

Begitu kurang lebih yang saya pahami dari sistem keagenan di Prudential. Boleh jadi produk asuransi merek lain punya aturan main yang berbeda.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline