Lihat ke Halaman Asli

Irwan Rinaldi Sikumbang

TERVERIFIKASI

Freelancer

Terlalu Banyak Grup WhatsApp Gara-gara "Grup dalam Grup"

Diperbarui: 23 Januari 2021   10:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi (Sumber: pixabay.com)

Kehebohan para pengguna aplikasi WhatsApp (WA) yang bingung apakah mau berlanjut memakai aplikasi itu atau menghentikannya dan beralih ke aplikasi lain yang serupa, mulai mereda. Pihak pegelola WA sudah mengumumkan menunda rencana berbagi data dengan aplikasi Facebook (FB) yang menjadi sumber kehebohan itu.

Bagi saya sendiri, memang dengan sadar memilih untuk melanjutkan menggunakan WA, karena ketergantungan yang sangat tinggi terhadap aplikasi yang menurut saya paling praktis itu. Tentu saja saya akan lebih berhati-hati untuk tidak serampangan memposting hal yang harus saya rahasiakan.

Ketergantungan saya tersebut terutama berkaitan dengan keikutsertaan saya di banyak grup WA. Saya hitung-hitung, ada sekitar 25 grup WA yang saya ikuti, meskipun sebagian di antaranya, saya adalah anggota pasif. 

Ada keinginan saya untuk cabut dari beberapa grup, sebagian di antaranya sudah saya lakukan (kalau ini dihitung, grup WA saya jadi sekitar 30-an grup), sebagian lagi saya masih merasa sungkan.

Kalau saya kelompokkan, grup-grup tersebut terdiri dari grup dinas, grup sosial, dan grup keluarga. Soal reuni teman sekolah atau kuliah, kelompok pengajian, warga satu komplek, komunitas penggemar sesuatu, dan grup perantau satu kota asal, saya kelompokkan sebagai grup sosial.

Lalu, yang saya maksud dengan grup dinas, definisinya juga cukup longgar. Umpamanya di kantor ada sebuah proyek yang melibatkan personil lintas divisi, agar memudahkan koordinasi, dibuatlah grup WA. Tentu yang terpenting adalah grup yang beranggotakan semua personil di suatu unit kerja tertentu, dari bos sampai yang kroco. 

Di grup tersebutlah bos sering memberi instruksi, yang mau tak mau harus dijawab "siap, bapak". Instruksi datang tidak mengenal waktu, bisa di luar jam kerja, bahkan di hari libur, meskipun nanti ditagihnya pada hari kerja setelah libur.

Saya lama ditempatkan di Divisi Akuntansi pada sebuah perusahaan milik negara. Ketika akhirnya dipindahkan ke Divisi Manajemen Risiko, otomatis bertambah lagi gup WA saya dengan grup divisi baru. Saya memang cabut dari grup pekerja divisi yang lama, tapi kemudian masuk ke grup Alumni Divisi Akuntansi. 

Ada juga grup Keluarga Besar Divisi Akuntansi yang beranggotakan para pekerja yang sekarang di divisi tersebut dan para alumni. Ada lagi, teman-teman sesama divisi yang satu geng sekitar 10 orang saja. Nah, makanya jumlah grup WA yang berkaitan dengan orang kantor yang saya ikuti lumayan banyak.

Yang jelas, jika dalam grup ada atasan langsung, grup akan sepi, ibaratnya betul-betul untuk dinas tanpa ada yang becanda. Tapi, jika tak ada bos di grup itu, bersliweran postingan berbagai topik, dari yang porno hingga yang religius, dari yang lucu hingga cerita duka.

Bila ada anggota yang ulang tahun, menikah atau menikahkan anaknya, dirawat di rumah sakit, meninggal dunia, maka postingan copy & paste (salin dan tempel) akan menjadi-jadi. Anggota yang jarang nongol, akan nongol.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline