Lihat ke Halaman Asli

Irmina Gultom

TERVERIFIKASI

Apoteker

Tren Produk Kosmetik Berbahan Senyawa Ganja

Diperbarui: 3 Mei 2019   18:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 Belakangan ini kelihatannya tanaman ganja sedang naik popularitasnya. Tanaman yang masuk dalam kategori Narkotika Golongan I di Indonesia ini, rupanya telah dilegalkan di beberapa negara, baik itu untuk tujuan pengobatan (medis) maupun rekreasi.

Adapun narkotika golongan I ini berarti dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan dalam jumlah terbatas hanya boleh digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Termasuk tanaman Papaver somniferum, Opium Mentah dan Opium Masak, daun Koka dan Kokain Mentah, Heroin dan sebagainya. 

Menjelang akhir 2018, penggunaan ganja medis telah dilegalkan di Inggris, kemudian diikuti oleh Kanada yang melegalkan penggunaan ganja secara penuh (medis dan rekreasi). 

Awal tahun 2019, giliran Thailand juga melegalkan penggunaan ganja medis. Dan sebelum negara-negara ini, beberapa negara di Eropa seperti Denmark, Italia dan Jerman juga telah melegalkan penggunaan ganja medis. Baca artikel saya sebelumnya disini.

CBD untuk Obat

Sebelum membahas penggunaan ganja dalam produk kosmetik, perlu diketahui bahwa ganja atau dikenal juga dengan Marijuana, merupakan tanaman berbunga herba dengan nama latin Cannabis sativa. Tanaman ini mengandung dua senyawa utama yakni Delta-9-Tetrahydrocannabinol (THC) dan Cannabidiol (CBD).

Meski berasal dari tanaman yang sama, kedua senyawa ini memiliki efek yang berlawanan. Jika THC akan memberikan efek high ke penggunanya, tidak demikian halnya dengan CBD. Oleh sebab itu, penelitian terhadap fungsi CBD sudah mulai banyak dikembangkan.

Hingga tulisan ini dipublikasikan, beberapa obat yang mengandung senyawa ganja yang telah disetujui US FDA adalah Epidiolex (mengandung CBD) untuk kasus epilepsi berat, serta Marinol dan Syndros yang mengandung Dronabinol (senyawa sintetik THC) dan Cesamet yang mengandung Nabilone (senyawa sintetik CBD). Dronabinol dan Nabilone ini digunakan sebagai treatment untuk memperbaiki nafsu makan pada gejala anoreksia(appetite stimulant) pada pasien HIV/AIDS dan mengatasi mual pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi.

Selain sebagai antiepilepsi, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa CBD memiliki fungsi lain yakni sebagai anti-inflamasi (radang), analgesik (penghilang rasa sakit), antipsikotik, asma dan sebagainya. Meski begitu, hasil penelitian untuk manfaat-manfaat ini belum cukup memadai sebagaimana penelitian sebagai anti-epilepsi.

CBD untuk Kosmetik

Nah baru-baru ini, saya kembali membaca berita bahwa ganja mulai ramai digunakan sebagai komposisi pada produk kosmetik, meski sebenarnya tren ini sudah mulai terdengar sejak tahun 2018 lalu. Namun bahan yang digunakan bukan ekstrak kasar (crude extract), melainkan salah satu senyawa utama ganja, yakni CBD.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline