Lihat ke Halaman Asli

Inung Widjaja

Konsultan & Konseptor Bisnis

Hobi, Personal Branding, dan Bisnis

Diperbarui: 24 Juni 2015   07:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bisnis. Sumber ilustrasi: PEXELS/Nappy

Berbicara tentang hobi menjadi duit, saya ingin bercerita tentang seorang teman, Redy Afrians namanya. Hobinya cukup banyak dan beragam; Bermusik, menulis, dan berselancar di dunia internet. Baginya, hobi-hobi tersebut amatlah menyenangkan dan telah membantu dalam mewujudkan mimpinya menjadi seorang entrepreneur muda di bidang audio engineer.

Tanpa Modal Uang

Punya studio rekaman membutuhkan alat-alat rekaman yang berharga mahal. Butuh modal biaya yang sangat besar untuk membelinya. Namun tidak bagi Redy. Dia punya studio rekaman dengan alat-alat rekaman lengkap. Biaya bukanlah kendala baginya. Apakah dimodali oleh orangtuanya? Tidak! Apakah ada investor? Tidak juga. Tanpa modal uang, sebuah studio rekaman profesional bisa terwujud. Cukup unik; punya alat rekam lengkap, tapi dia tak pernah membelinya.

Awalnya dia hanya punya sebuah komputer dan sepasang speaker – tak terlalu bagus. Boleh dibilang, komputer dan speaker itu masih sangat kurang memenuhi standar untuk melakukan rekaman professional. Mikrofon saja masih meminjam teman. Pada saat itu, dia merasa belum layak membuka studio rekaman professional.

Dengan alat seadanya, klien semakin banyak. Keinginan mempunyai alat-alat rekaman standar professional pun semakin kuat. Redy memutar otak. Ide kreatifnya muncul. Mulai saat itu, setiap klien yang akan menggunakan jasanya tidak dimintai bayaran uang. Dia minta dibayar dengan alat-alat rekaman yang dia mau. Ada yang lebih mahal dan ada yang lebih murah dari tarif jasa rekamannya. Karena kualitas garapan Redy cukup bagus dan banyak disukai, para klien mau membelikan alat-alat rekam. Satu klien satu alat. Satu per satu alat-alat rekaman telah dipunyainya. Rumah Rekam sudah cocok menjadi studio rekaman dengan kualitas professional.

Menulis, Internet, dan Personal Branding

Peran internet cukup besar dalam perkembangan kemampuannya di bidang ilmu audio. Banyak artikel ilmu audio dibacanya. Namun sayang, artikel berbahasa Indonesia sangat jarang. Dari hal ini ia menulis banyak artikel dan membagikannya dalam sebuah website buatannya sendiri. Artikel-artikel tersebutlah yang menjadi nilai penarik.

Ternyata sangat banyak orang yang ingin belajar seni audio. Setiap hari Redy melayani tanya jawab seputar seni audio. Website tersebut menjadi referensi utama bagi orang-orang yang ingin belajar seni merekam audio. Website ini menjadi salah satu referensi berbahasa Indonesia bagi yang ingin belajar audio. Langkah ini berhasil membangun personal brand-nya sebagai audio engineer.

Bersamaan dengan itu, ia bersama seorang temannya membuka studio rekaman. Personal brand-nya sudah terbangun dari artikel-artikel buatannya. “Sekarang sudah zaman internet. Melalui website, studio saya berhasil berada di puncak pencarian Google. Banyak orang yang mencari segala hal di internet, termasuk mencari studio rekaman. Peluang inilah yang saya ambil. Website itu cukup ramai dikunjungi. Setiap ada yang mengetik “studio rekaman yogyakarta” dan “rekaman Yogyakarta”, yang muncul adalah studio saya. Studio saya itu adalah studio rekaman nomor 1. Tapi nomor 1 di Google, hehehe,” katanya sambil tertawa.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline