Lihat ke Halaman Asli

Humaida

Mahasiswa/IAIN Palangka Raya

Peningkatan Nilai Ekspor Sebagai Suatu Strategi Bersaing di Pasar Internasional

Diperbarui: 26 Juni 2023   21:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Birokrasi. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Impor dan ekspor atau perdagangan internasional secara keseluruhan merupakan bagian penting dari perekonomian negara karena dampak dari kegiatan tersebut dapat mempengaruhi perkembangan perekonomian. Adanya ekspor impor mempengaruhi produk domestik bruto (PDB) yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan reformasi ekonomi terbuka dan kebijakan aliran modal dengan bantuan strategi pertumbuhan perdagangan internasional (Dai et al., 2016)

Bagi perusahaan, kegiatan ekspor mendorong motivasi perusahaan untuk mengadopsi praktik terbaik yang diterapkan di tingkat internasional dan penerapan inovasi teknologi utama yang meningkatkan efisiensi dan meningkatkan kualitas produk, yang pada akhirnya mengarah pada daya saing ekspor (Bbaale et al., 2019) Saat ini perdebatan tentang peran perdagangan internasional dalam pertumbuhan ekonomi menjadi topik yang menarik dan banyak diperbincangkan, terutama di negara-negara berkembang, karena masih kontroversial. Jika ada pertumbuhan yang berasal dari ekspor, biarlah ekspor dapat mendorong pertumbuhan yang berasal dari kegiatan impor, sehingga impor juga dapat mendorong pertumbuhan (Hye, 2012)

Indikator Impor dan ekspor digunakan untuk mengukur prestasi dan keberhasilan suatu negara dalam perkembangan perekonomian (Silaban & Rejeki, 2020)[1]. Apabila nilai ekspor lebih tinggi impor atau ekspor nettonya positif berarti kegiatan tersebut memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional yang berdampak pada naiknya pertumbuhan ekonomi. Indikator ini yang paling sensitif yang dapat menimbulkan berbagai sentimen dalam masyarakat termasuk pada nilai tukar, investasi dan bahkan harga saham (Arfiani, 2019)  umumnya mengarah pada kurs.

Jumlah kegiatan ekspor yang meningkat akan menyebabkan permintaan mata uang domestik naik dan nilai tukar menguat di samping mengakibatkan tenaga kerja terserap secara penuh yang berarti tingkat pengangguran berkurang. Faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai tukar ialah impor. Impor yang tinggi berdampak pada permintaan mata uang negara lain meningkat sehingga mata uang domestik melemah. Selain impor investasi dan modal, akan menurunkan produksi di dalam negeri, meningkatnya pengangguran dan pendapatan menurun sehingga daya beli masyarakat juga melemah.

Selama beberapa terakhir terutama di Negara Indonesia, terjadi penurunan terhadap jumlah ekspor dan impor yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti belum pulihnya permintaan global dan menurunnya konsumsi domestik. Hal tersebut juga terjadi pada Negara-negara berkembang lainnya seperti di Negara-negara ASEAN, tingkat ekspor dan impor masih bisa dikatakan sedikit dibandingkan negara-negara maju seperti Jepang, China dan Korea lain Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik nilai ekspor Indonesia pada November 2019 tercatat mengalami penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor merosot sebesar 5,67% yoy. Merosot ekspor ini dinilai karena pemerintah lambat melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor. Penurunan nilai ekspor ini lebih dalam dari penurunan nilai ekspor bulan November 2018 yang sebesar 3,28% year on year (yoy), setelah ekspor sempat tercatat naik pada November 2017 sebesar 13,18% yoy. Selanjutnya pada tahun 2020 dan 2021 mengalami sedikit kenaikan walau tidak signifikan.

Hingga saat ini nilai ekspor Indonesia masih tergolong rendah. Akibat melesunya perdagangan komoditas, kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2023 lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Dengan demikian, tren merosotnya nilai ekspor Indonesia telah berlangsung selama enam bulan berturut turut. Badan Pusat Statistik merilis nilai ekspor pada Februari 2023 sebesar 21,4 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Nilai tersebut lebih rendah 4,15 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 22,32 miliar dollar AS. Ini menunjukkan tren penurunan nilai ekspor Indonesia telah berlangsung selama enam bulan sejak September 2022. Nilai ekspor pada September 2022 sebesar 24,8 miliar dollar AS atau anjlok 10,58 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pada Februari 2023, nilai ekspor nonmigas tercatat sebanyak 20,21 miliar dollar AS atau menurun 3 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kinerja tersebut dipengaruhi oleh penurunan nilai kelompok bahan bakar mineral sebesar 6,51 persen, kelompok logam mulia, perhiasan, dan permata turun 30 persen, kelompok bijih logam, kerak, dan abu turun 29,86 persen, serta alas kaki turun 13,78 persen.

Hasil ekspor dan impor merupakan hasil awal deindustrialisasi di Indonesia. Dengan memburuknya aktivitas industri, perdagangan industri juga akan melemah. Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh mengabaikan masalah deindustrialisasi jika ingin menghindari jebakan negara kelas menengah. Surplus perdagangan akan cenderung menurun ke depan karena penurunan harga komoditas akan mempengaruhi pendapatan ekspor.

Seperti di negara berkembang lainnya, perkembangan ekspor Indonesia juga mempengaruhi fluktuasi ekonomi. Kegiatan ekspor yang meningkatkan pertumbuhan perusahaan, lebih tinggi bagi perusahaan yang mengimpor teknologi dan sebaliknya. Adopsi pembelajaran lintas batas oleh perusahaan yang memasuki pasar ekspor memiliki efek positif, karena teknologi impor diadopsi untuk mencapai sinergi (Wang & Tao, 2018). Ekspor berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya. Selisih impor berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (Fitriani, 2019), artinya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menguat ketika ekspor meningkat, dan sebaliknya nilai tukar rupiah akan melemah ketika ekspor turun (Sedyaningrum et al., 2016). Untuk meramalkan ekspor dan impor, perlu ada publikasi mengenai model permintaan ekspor dan model permintaan impor. Ekspor dan impor sangat penting dalam membuat kebijakan makroekonomi agar dapat mengukur tingkat keterbukaan suatu negara terkait neraca perdagangan yang kemudian berimplikasi pada terjadinya inflasi dan nilai tukar. Karena ekspor berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar Rupiah dan daya beli masyarakat Indonesia. Untuk itu pemerintah menghimbau kepada Importir dan masyarakat agar dapat menekan kegiatan impor.

Dalam jangka panjang, besaran ekspor mempengaruhi nilai tukar dan rupiah yang penting bagi pertumbuhan ekonomi, sedangkan besaran impor tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan pencapaian yang menjadi tujuan utama negara. Pemerintah harus mampu menerapkan berbagai strategi yang dapat membantu mencapai tingkat pertumbuhan dan menggambarkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Politisi harus bisa mengambil keputusan untuk menstabilkan nilai rupiah. Karena nilai tukar diketahui memiliki pengaruh yang besar terhadap ekspor dan impor barang dan jasa, transaksi operasional saat ini memungkinkan Indonesia menghasilkan surplus yang dapat digunakan untuk meningkatkan PDB Indonesia.

Di banyak negara, masalah perdagangan dan pertumbuhan ekonomi terkait erat dengan strategi kebijakan perdagangan internasional yang diakui. Pembuat kebijakan membutuhkan informasi untuk merumuskan strategi ekonomi makro untuk memperkirakan ekspor dan impor di negara maju dan berkembang untuk meningkatkan kesejahteraan nasional dan mendukung pangan dalam negeri, sesuai dengan biaya yang dikeluarkan dalam rangka membuat regulasi dan kerjasama seputar kebijakan di saat krisis (Bouet & Debucquet, 2012).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline