Lihat ke Halaman Asli

Kepada yang Sudah

Diperbarui: 25 Juni 2015   22:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

akan ada waktunya aku pulang
tergagap mengenangmu
meraba jalan yang menyimpan sisa kenangan.
setiap yang menua, dilapisi aspal baru.
di mana lagi bisa kutemukan
riwayat kita?

aku tak pernah mampu untuk biasa,
keluar rumah tanpa menemukan bibirmu yang manisnya lekat
sampai kini di ujung lidah. aku kelewat gamang
duduk bersama kawan-kawan yang
menggunjingkan cinta yang gagal
dan menatapku penuh kutukan.

aku tak pernah mencelakaimu, bukan?

akan ada saatnya rinduku begitu penuh,
mengutuk diri dan sepenuhnya menyesali.
mestinya kau masih di sini, memberi lebih banyak
manis dalam hidupku yang terlampau galau.

ada kalanya lelaki memiliki rahasia kecil
yang dijaga kelewat hati-hati. orang-orang memanjat gunung
merenangi laut, menyuruk di dalam semak.
tapi aku tak sepenuhnya meninggalkanmu.

aku tak ingin pulang membawa kekalahan
tersudut dan dibiarkan sia-sia.
kau mestinya tahu, tak banyak yang kita harapkan
dari sawah-ladang. tak banyak pula yang mampu diberikan negara.
kita sepenuhnya bertarung dan berperang.
tak ada yang ingin terus-terusan dikalahkan.

selalu saja ada yang dirindu sehabis bertempur
setiap orang ingin rumah untuk pulang.
aku merasa begitu memerlukanmu.

aku hanya akan menjumpai dirimu yang membeku
mengabaikan hal-hal yang pernah ada
belajar terbiasa dan membiarkan aku
gugup menjalani kisah baru.

orang-orang akan memandangku penuh kutukan
melewati jalan yang menimbun banyak kenangan
membiarkan hati penuh oleh hujan.

hatimu mungkin masih yang dulu
tapi tubuhmu terus dimiliki sepanjang waktu.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline