Lihat ke Halaman Asli

H.I.M

TERVERIFIKASI

Loveable

Cerai Saat Pandemi, Sungguh Terlalu

Diperbarui: 10 September 2020   16:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Pasangan yang Tengah Bertengkar. Sumber Dokter.id

Mana janji manismu
Mencintaiku sampai mati
Kini engkau pun pergi
Saat ku terpuruk sendiri
Akulah sang mantan

Diatas adalah sepenggal lirik lagu Sang Mantan dari band Nidji yang sempat menjadi lagu favourite saat masih jaman kuliah. Kini penggalan lirik tersebut seakan mewakili tingginya kasus perceraian yang terjadi selama pandemi.

Salah satu berita online memuat informasi dari Aco Nur selaku Jenderal Badan Pengadilan Mahkamah Agung menyampaikan bahwa pada awal penerapan PSBB pada April dan Mei 2020, kasus  perceraian di Indonesia masih berada di bawah 20.000 kasus. 

Namun kini bulan Juni dan Juli 2020, jumlah perceraian meningkat menjadi 57.000 kasus. Artinya peningkatan ini hampir menembus 3 kali lipat. Suatu angka yang mencengangkan dimana masa pandemi justru membuat pasangan beramai-ramai mendaftarkan gugatan perceraian (berita lengkap klik disini).

Menguntip dari berbagai sumber saya dapat menganalisa bahwa setidaknya terdapat 4 faktor penyebab mengapa tingkat perceraian begitu tinggi selama pandemi

1. Faktor Ekonomi. 

Tidak dipungkiri bahwa masa pandemi ini telah menyebabkan kemerosotan ekonomi secara global. Banyak karyawan yang di-PHK, mengalami pemotongan gaji, usaha tutup sementara hingga bangkrut hingga tabungan yang kian menipis untuk kebutuhan sehari-hari. Masih banyak pasangan yang tidak siap secara mental menghadapi perubahan finansial secara drastis.

Saya pernah melihat fenomena seorang istri yang selalu dimanja oleh suaminya. Setiap keinginan istri selalu berusaha dipenuhi oleh suami baik untuk kebutuhan sehari-hari, keperluan pribadi hingga gaya hidup. Rasa sayang suami terhadap istri terlihat jelas dimana apapun yang diminta akan selalu diberikan. Ketika tiba-tiba usaha suami bangkrut dan ekonomi keluarga menjadi anjlok. Pasangan ini terasa tidak siap terutama dari si Istri.

Gugatan perceraian pun terjadi yang diajukan oleh si Istri karena merasa suami tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup si istri. Si istri memberitahukan orang disekitarnya bahwa dirinya masih muda dan masih banyak lelaki mapan yang siap menikahinya. Fenomena ini ibarat sinetron FTV yang sering diputar di televisi namun kita tidak memungkiri bahwa banyak terjadi di sekitar kita apalagi di tengah pandemi ini.

Latar belakang perceraian karena faktor ekonomi umumnya terjadi bagi mereka yang dari awal bertemu, pacaran, menikah hingga membangun rumah tangga dengan kondisi keuangan yang baik. Sehingga ada faktor syok finansial yang menyebabkan mereka memilih untuk berpisah. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline