Lihat ke Halaman Asli

Galih Prasetyo

TERVERIFIKASI

pembaca

Mengenal Mauritius, Calon Lawan Timnas Indonesia

Diperbarui: 6 September 2018   11:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

airmauritius.com

Pada 11 September 2018 mendatang, Timnas Indonesia dijadwalkan akan lakoni laga uji coba dengan negara yang namanya terdengar asing, Mauritius. Negara asal Afrika itu menjadikan Timnas Indonesia sebagai salah satu lawan mereka dalam tur ke Asia Tenggara.

Menariknya meski terdengar asing di telinga, Mauritius memiliki Timnas yang lebih baik dibanding Indonesia. Hal itu bisa dilihat perbedaan peringkat FIFA antar kedua negara. Dari data fifa.com per 16 Agustus 2018, Mauritius berada di peringkat ke-155 sementara Indonesia hanya di urutan 164.

Kok bisa negara yang pernah dihancurkan Mesir dengan skor telak 7-0 pada 2003 tersebut memiliki peringkat FIFA yang lebih baik dibanding Indonesia?

Perkembangan sepakbola Mauritius bukan aksi sulap, sim salabim, ada proses panjang dan berliku yang dilakukan federasi sepakbola Mauritius (MFA) untuk menjadikan sepakbola di negara pulau tersebut menjadi lebih baik dan profesional.

Sepakbola Mauritius alami kemerosotan pada periode 2010-an, sempat menduduki peringkat ke-116, Timnas Mauritius lalu melorot ke peringkat 195 di musim panas 2011. Hal ini diperparah dengan temuan bahwa ketum MFA, Dinnanathlall Persunnoo saat itu tersandung kasus match fixing.

Dinukil dari laporan bbc.com, Persunnoo terlibat dalam pengaturan skor pertandingan divisi 2 Liga Mauritius. Ialah salah satu pemiliki klub dari divisi 2, Anzal Hossenbaccus yang membongkar praktek kotor tersebut. "Ia menjelaskan bagaimana segala sesuatu bisa diatur untuk klub promosi atau degradasi," kata Hossenbaccus. Ini menjadi titik terendah sepakbola Mauritius.

Sebagai olahraga terpopuler di negeri ini, peran MFA memang sempat mencapai titik nadir seperti yang disebutkan di atas. Namun sama dengan banyak negara berkembang yang federasi sepakbolanya bermasalah, MFA pun sampai saat ini masih berkutat dengan masalah yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang dialami PSSI.

Mulai dari soal kesulitan keuangan, perubahan kebijakan federasi yang dianggap tak masuk akal, semerawutnya kompetisi yang dianggap sejumlah pengamat sepakbola di Mauritius sebagai pangkal masalah tak majunya timnas mereka.

Namun MFA tetap berupaya untuk bangkit dengan sejumlah terobosan diantaranya merobak sistem liga mereka dengan menekankan profesinalisme. Malah MFA memberikan kebijakan bayaran kepada sejumlah pemain yang mau berlatih dan bermain untuk Timnas Mauritius. Klub-klub liga lokal Mauritius juga mulai berani untuk bermain di kompetisi antar klub negara di Afrika.

Hasilnya tidak buruk-buruk amat. Club M misalnya mampu jadi runner up di kompetisi bernama IOIG 2011 yang merupakan kompetisi antar klub di region Afrika Timur. Setidaknya di level satu kawasan, klub asal Mauritius berani tampil dan membuat repot lawan-lawannya. Lambat laun, MFA kembali mendapat simpatik dari publik sepakbola Mauritius.

Yang unik juga dari sepakbola Mauritius ialah soal sisi lain klub sepakbola negara ini. Jadi beberapa klub di negara ini merupakan afiliasi dari sejumlah institusi, seperti klub Pamplemousses SC yang merupakan klub pemadam kebakaran. Selain itu banyak klub di negara ini yang menonjolkan latar belakang mereka, ada klub sepakbola Islam, ada klub sepakbola Kristen, dan lain sebagainya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline