Lihat ke Halaman Asli

Ina Barina

Mahasiswi Ilmu Komunikasi

Dilematis Kaum Bawah dalam Menghadapi Kebijakan Larangan Mudik

Diperbarui: 4 Mei 2021   10:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pemerintah Indonesia resmi merilis peraturan mengenai larangan mudik lebaran tahun ini, pada awal April lalu. Sejak diterbitkannya peraturan tersebut, isu demi isu berkembang di masyarakat luas. Hal tersebut mengingat dampaknya akan sangat besar bagi para buruh harian. Perlu diketahui, isu mengenai diberhentikannya seluruh moda transportasi darat pada masa larangan mudik merupakan hal yang paling menjadi perbincangan di masyarakat kaum bawah.

Tidak bisa dipungkiri, maksud tegas pemerintah dalam menerbitkan kebijakan ini mengingat laju kasus Covid-19 yang masih terus berjalan di seluruh daerah. Mobilitas memang menjadi salah satu faktor yang paling mempengaruhi kasus Covid-19 di Indonesia, sehingga pemerintah berharap kebijakan ini mampu mengurangi laju penyebaran kasus Covid-19, tetapi bagaimana solusi yang diberikan untuk kaum bawah?

Larangan mudik mulai 6-17 Mei bukanlah menjadi rentang waktu yang sebentar bagi para buruh harian. Mereka yang mengandalkan penghasilan dari jalanan, tentunya akan mengalami kesulitan dengan kebijakan tersebut. Katakanlah untuk para tulang punggung keluarga yang bekerja mengandalkan mobilitas dari moda transportasi darat, seperti sopir, kernet, pedagang asongan, dan lain sebagainya. Jika kebijakan tersebut memaksa pemberhentian mobilitas moda transportasi, tentunya sumber penghasilan mereka pun juga akan hilang. Selama 11 Hari berhenti, tentunya akan melumpuhkan perekonomian mereka yang baru saja mengalami kepulihan ditengah masa pandemi ini.

Lalu, hal yang kembali menjadi perhatian adalah mengenai para pekerja yang selama ini mengandalkan transportasi umum. Para pekerja pabrik misalnya, apabila moda transportasi darat berupa kendaraan-kendaraan umum itu diberhentikan, bagaimana akses mereka nanti? Yang mana diketahui pun, tidak semua pekerja mampu beralih ke kendaraan pribadi mengingat kondisi ekonomi mereka. Apakah mungkin pabrik-pabrik akan memberikan kelonggaran pada pekerjanya yang kesulitan akses?

Berbagai dilematis itupun menghantui para kaum bawah, mengingat kembali bagaimana momen lebaran tahun lalu sudah begitu mencekik mereka. Lalu, bagaimana nasib mereka di momen lebaran tahun ini? Tentunya, para kaum bawah berharap pemerintah dapat memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan tersebut dan solusi untuk dilematis yang dialami kaum bawah selama masa larangan mudik tersebut.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline