Lihat ke Halaman Asli

Imam Kodri

TERVERIFIKASI

Anak Buah Ahok yang Denok dan Menohok

Diperbarui: 17 Juni 2015   09:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Permainan aneh namun selalu ada dimanapun berada termasuk di Jakarta Ibu Kota Negara tentang seorang Birokrat perempuan yang dulunya remajanya menjadi wanita denok, dan sekarang ini menjadi dibawah asuhan AHok, tetapi telah melakukan perbuatan yang sangat menohok, dari wanita yang sekarang menjadi wanita birokrat sebagai deputi Gubernur.

Makanya perlu dikasih penghargaan tetapi yang agak aneh sedikit sesuai dengan tindakannya yang aneh dan menghebohkan. Perempuan ini menurut pengamatan termasuk dari depan halus tetapi dibelakang suka menohok, demikian kata Pak Ahok.

Penghargaannya yang pantasadalah kasih saja julukan sebagai “Wong Alus Yang Menohok”. Dia itu , pernah menjadi none Jakarte 1981. Tetapi sekarang pandai melakukan setting, pandai menjadi pengarah laku dan sutradara khusus produksi film-film yang menghebohkan.

Julukan tersebut memang agak aneh akan tetapi keren dan pantas untuk birokrat yang mantan denok none jakarta 1981 ini. Kenapa dia mau melakukan pekerjaan yang sebenarnya sangat tidak pantas dilakukannya mengingat jabatannya di DKI Jakarta yang sudah mencapai level Deputi.

Alangkah pasnya sebagai “Wong Alus Yang Menohok”, bagaimana tidak dengan kesadarannya membuat adegan film dengan bintang atau artis nya diambil dari Istri Gubernur Ibu Veronika Tan, istri Pak Ahok yang menjadi pimpinannya di Birokrasi Pemerintahan DKI Jakarta.

Semula rencana dibuat sedemikian rapihnya karena sebelumnya tanpa diberitahu kepada Ibu Veronika Tan tentang rencananya, agar film lebih mengena sasaran dan menohok kepada Ahok.

Wanita Birokrat yang mantan denok itu jabatannya sudah sangat tinggi satu level dibawah AHOk, Dia itu adalah Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Sylviana Murni, dia itu Doktor mungkin akan membuat film Horor, sasarannya keluarga Gubernur yang akan dijadikan alat teror.

Bisa jadi akan dijadikan produksi filmmengenai pariwisata, akan tetapi akibat dari keahliannya yang dadakan dan pesanan itu, hasil merekayasa dan mensettingIbu Veronika Tan menjadi Sebuah Foto yang betul-betul menohok kepada Ahok, malah membuka kedok Sang Deputi Gubernur wanita mantan denok itu.

Hasil setingan dan rekayasa seolah Ibu Veronica Tan sedang memimpin rapat dengan menggunakan ruang kerja Pak Ahok. Jadi Deputi Gubernur bidang Pariwisata dan KebudayaanSylvia Murni sekarang merangkap menjadi Sutradara Film dan Tukang rekayasa dan tukang Setting untuk kepentingannya atau untuk kepentingan titipan dari badut-badut politik dan para birokrat.

Kalau begitu Pak Ahok pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai Gubernur DKI menjadi semakin berat saja, karena Ahok sekarang berdekatan mantan wanitadenok yang merangkap deputi Gubernur yang sewaktu-waktu bisa menjadi badut-badut politik titipan, yang mau menerima pesanan politik, dengan karakternya yang ganda malah tripel yaitu baik ketika berhadapan namun menusuk dari belakang. Halus ketika bertutur sapa akan tetapi menggunting dalam lipatan.

Ini baru problem yang perlu dipecahkan oleh Ahok, apakah akan memilih penbantu-pembantunya yang halus ucapannya, halus tutur katanya, didepan Ahok andap asor, didepan Ahok selalu kulo nuwun, akan tetapi dibelakang tak tahunya akan berbalik muka 180 derajat muka melotot pasang kuda-kuda menohok, kalau itu pilihan ahok, silahkan saja tetap pelihara “Wong Alus Yang Menohok” itu.

Ceritera tentang Birokrasi yang berisi manusia-manusia sebagai “Wong Alus Yang Menohok” bukan hanya jamannya Ahok saja, sudah ada sejak jaman kuno, sudah ada sejak jaman Majapahit, Mataram, zaman Sriwijaya, Zaman Kolonialisme, Zaman VOC dan seterusnya, akan selalu ada sepanjang zaman.

Masih ingatkah Ki Ageng Mangir , penguasa Mangir yang sakti dapat dijerat oleh wanita selundupan Panembahan Senapati Mataran, Putri Pembayun , yang pada akhirnya menjadi kekasihnya sekaligus pembunuhnya. Dengan rayuan melalui kata-katanya yang halus , Ki Ageng menuruti apapun yang menjadi saran dan ucapan putri Pembayun untuk menghadiri pesowanan kepada Panembahan Senapati, tanpa didampingi tombak pusakanya Ki Baru Klinting. Pada Akhirnya Senapati Ing Ngalaga dengan gampangnya membelah mustaka Ki Ageng hingga ajalnya. Itulah gambaran bagi seorang raja yang gampang disusupi oleh “Wong Alus Yang Menohok” bisa-bisa menjadi sebab berakhirnya karier dan kejayaan seseorang.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline