Lihat ke Halaman Asli

rokhman

TERVERIFIKASI

Kulo Nderek Mawon, Gusti

Nasib Tukang Bangunan Independen yang Tersudut

Diperbarui: 14 Juli 2020   08:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi tukang bangunan. foto tribunnews/jeprima

Tukang bangunan independen adalah mereka yang bertukang secara individu. Keberadaan mereka terancam karena adanya oknum yang malas dan manajemen yang lebih bagus dari pemborong.

Mungkin kesimpulan di atas terlalu prematur. Namun, ada alasannya berdasar cerita dari seorang teman belum lama ini. Seorang teman ingin membangun rumah, lalu kami bercerita. Si teman ini mengatakan bahwa dia ingin mencari pemborong saja.

Dia enggan memakai tukang bangunan independen. "Nyari pemborong saja. Kalau yang harian (tukang bangunan independen) berat," katanya. Dia bercerita bahwa ada pengalaman yang tak enak ketika menggunakan jasa tukang bangunan independen.

Mungkin karena dia sedang bertemu dengan oknum tukang bangunan independen yang malas. "Kerja sehari cuma beberapa jam, karena banyak kepotong makan dan istirahat," ujarnya. Imbasnya, pekerjaan tak cepat selesai dan biaya membengkak.

Karena pengalaman itulah dia memutuskan untuk mencari pemborong guna membangun rumah. Menurutnya, dengan pemborong hitung-hitungannya jelas dan pekerjaan bisa lebih tuntas.

Itu semua adalah pandangan pribadi teman saya. Sah saja dia kecewa dengan performa oknum tukang bangunan independen. Sehingga memutuskan mencari pemborong.

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari obrolan ini. Pertama adalah bahwa tukang bangunan independen makin terancam ketika ada oknum dari mereka yang kerja seenaknya. Ketika ada yang kerja seenaknya, maka profesi tukang bangunan independen akan tercoreng. Ini kasusnya sama dengan profesi apa saja. Oknum itu memang menggerus nama profesi.

Kalau sudah tercoreng, maka kepercayaan pada tukang bangunan independen akan berkurang. Padahal, ada juga tukang bangunan independen yang saya lihat kerja dengan baik, benar, dan tepat waktu.

Kedua, keberadaan pemborong mungkin akan lebih banyak dicari. Khususnya untuk membangun bangunan agak besar. Mungkin karena orang ingin praktis. Walaupun sebenarnya bisa saja mereka melakukan pekerjaan yang tak semestinya. Yang namanya orang, kalau curang ya curang saja, tak peduli pemborong atau tukang bangunan independen.  

Ketiga, pada akhirnya tukang bangunan independen menginduk pada pemborong. Mereka kerja bareng pemborong. Mereka yang sebelumnya independen, kemudian menjadi pekerja bagi orang lain. Statusnya berubah dan konsekuensinya pun berubah.

Keempat adalah efek dari pelajaran pertama. Memang akan lebih baik jika tukang bangunan independen berjejaring walaupun agak sulit dilakukan. Berjejaring termasuk bagaimana mereka bisa berbagi pekerjaan dan memastikan bahwa tukang bangunan independen yang direkomendasikan adalah orang yang jempolan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline