Lihat ke Halaman Asli

Ika Septi

TERVERIFIKASI

Lainnya

Kemarau Datang, Fakir Air Disandang

Diperbarui: 18 Agustus 2019   10:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi : pxhere.com

Bila para jomblower menyandang gelar fakir asmara, maka para netter yang tongpes menyandang gelar fakir kuota.
Sedangkan gelar saya beberapa tahun lalu adalah fakir air.

Ya beberapa tahun lalu saya mengalami krisis air yang sangat memilukan baik lahir maupun batin.  Setelah bercokol beberapa abad melengkapi rumah, baru saat itu pompa saya ngadat tidak mau menyemburkan air.  Jangankan satu ember, satu tetes pun tak ada yang membuat hidup terasa sangat hampa.  

Mandi? Mandi dong, masih ada tetangga yang baik hati dan tidak sombong. Habis mandi eh dioleh-olehi kue bolu lagi, berasa habis pulang kenduri.

Bila Bandung di lingkung (kelilingi) gunung, sumur saya dikelilingi jetpump dan submersible alias sibel. Kanan kiri, depan belakang, atas bawah.  Semua sumur gali dan sumur bor biasa telah di upgrade memakai jetpump dan sibel yang kerap disebut sumur bor satelit.  

Ya, di wilayah perkotaan dan diskotik alias disisi kota saeutik (sedikit) hihi ada dua jenis sumur bor yang sangat populer di belantara perairan masa kini.
Yang pertama adalah sumur bor jetpump. Sumur ini dibuat dengan kedalaman antara 25 sampai 45 meter dengan menggunakan pompa yang disebut jetpump.  

Nah, beberapa belas tahun lalu jenis sumur ini dapat mencukupi ketersediaan air bersih namun seiring dengan semakin meningkatnya populasi, sumur jetpump sudah tidak mengcover ketersediaan air bersih di wilayah sekitar rumah saya. Kalau sudah begini menggali lebih dalam untuk mendapatkan sumber air harus dilakukan. Dan sumur bor submersible alias sibel lah solusinya.

Sumur bor submersible (sibel) atau semi artesis dibuat dengan kedalaman 60 sampai dengan 80 meter. Pompanya sendiri ditanam di dalam sumur agar terendam air.  Hal ini dilakukan agar semburan airnya lebih dahsyat. 

Karena menggalinya lebih dalam maka kualitas dan kuantitas air yang diperoleh lebih baik dari sumur jetpump.  Biaya yang dikeluarkannya pun lebih tinggi daripada sumur jetpump ditambah waktu pembuatannya yang bisa sampai 7 hari 7 malam seperti yang terjadi pada tetangga saya kemarin ini.  Belum lagi suara bising yang ditimbulkan saat proses pengeborannya.  Pokoknya sebagai tetangga saya merasa merana, eh heheh curhat.

Dulu, bila musim kemarau seperti sekarang ini tidak ada istilah membeli air yang ada adalah meminta air ke tetangga.  Nah sumur yang di mintain air itu biasanya tidak habis-habis airnya karena telah di hujani oleh doa dari yang minta. 

Namun zaman telah berubah, dimana segala sesuatu harus dibeli termasuk air.  Ya, sudah jamak kiranya bahwa sumur semi artesis milik perorangan dibikin bisnis, ah sungguh manis.

RW saya sendiri sudah membuat sumur sibel dengan dana swadaya masyarakat plus bantuan dari Desa.  Masyarakat yang membutuhkannya tinggal memasang instalasi pipa sendiri-sendiri dengan tarif yang telah di tentukan oleh pihak RW. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline