Lihat ke Halaman Asli

Ika Devita Sari

SMAN 3 JEMBER

Tradisi Selamatan Masyarakat Jawa

Diperbarui: 24 November 2022   15:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Bangsa Indonesia merupakan Negara yang luas, terdiri dari berbagai macam budaya. Budaya asli mayarakat Indonesia dikaitkan dengan unsur-unsur kebudayaan universal. Kebudayaan yang bersifat dinamis dan dapat dilestarikan kepada setiap keturuannanya. Kebudayaan di masyarakat terdiri dari berbagai macam tradisi.

Tradisi-tradisi yang kita temui beranekaragam. Salah satu yang sering kita temui misalnya tradisi salamatan kelahiran, tradisi salamatan kematian, dan banyak lainya. Sesuai dengan Ayat Al-Quran, bahwa Manusia ciptaan dan milik Allah, lahir di alam dunia untuk beribadah kepada-Nya dan akan kembali ke hadirat-Nya (Al-Baqarah (2): 156), (Al-Dzarriyat (51): 56). 

Manusia diciptakan dari tanah, akan dikembalikan ke tanah dan kelak akan dibangkitkan dari tanah (Thaha (20): 55). Kehidupan manusia melalui siklus kehidupan yang panjang berpindah dari satu alam ke alam yang lain : dari alam arwah ke alam kandungan, lahir ke alam dunia, transit ke alam barzah (alam kubur) dan akhirnya menetap selamanya di alam akhirat.

Kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan perpindahan dari alam dunia ke alam penantian (barzah/kubur). Kematian merupakan pintu masuk yang harus dilewati oleh setiap manusia dalam proses kehidupannya. 

Alam kubur bisa berupa taman surga yang luas dan indah, namun juga bisa berupa jurang neraka yang mengerikan, bergantung amal perbuatan manusia ketika di alam dunia; becik ketitik ala ketoro, ngunduh wohing pakarti (Al-Jumu'ah (62): 8). Ketika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali pahala dari tiga amal yaitu, sedekah jariyah, ilmu yang manfaat dan anak saleh yang mendoakannya (Al-Hadis). 

Kiriman dari anak cucu, sanak keluarga dan teman baik berupa do'a, sedekah dan amal saleh yang lain bermanfaat dan sangat berarti bagi orang yang sudah meninggal untuk menambah kenikmatan atau mengurangi penderitaannya di alam kubur (Sayid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah : 168). Pemahaman agama semacam ini bertemu dengan budaya Jawa kemudian menyatu secara simboisis dalam bentuk upacara tradisi kematian.

Upacara tradisi kematian yang meliputi upacara pemakaman, sur tanah, selamatan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, mendak pisan, mendak pindo dan upacara seribu hari yang berlaku sampai sekarang di dalam masyarakat Jawa khususnya di Jember selatan tepatnya di Desa Sidodadi kec. Tempurejo Kab. Jember. wilayah tersebut banyak dipengaruhi oleh aspek-aspek ajaran agama Islam yang bertemu dan menyatu secara simboisis dengan budaya Jawa.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline