Lihat ke Halaman Asli

iamliaa 01

Mengkhayal dan bermimpi adalah kesenanganku

Bersyukur dengan Memberi

Diperbarui: 26 Agustus 2018   23:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(pixabay.com)

Terik matahari kian menyengat membakar kulit hitam Pak Amat, penjual bakso bakar di depan sekolah adikku. Sesekali tampak Pak Amat menyeka keringat di wajah dengan sapu tangannya. Wajah tuanya tetap tersenyum saat anak-anak sekolah mengerumuninya, tak terlihat rasa lelah sedikitpun. 

Bila aku tak salah, usia Pak Amat sekitar 60 tahunan, usia yang seharusnya digunakan untuk beristirahat dan menikmati hari tuanya, tapi Pak Amat masih saja aktif bekerja untuk kebutuhan hidupnya.

Orang-orang biasanya memanggil dengan sebutan "Bakar Pamat" atau "Bakso Bakar Pak Amat". Pak Amat sudah berjualan selama kurang lebih 20 tahun, bahkan sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Bakso Pak amat tak pernah sepi pengunjung dan aku adalah salah satu langganan tetap Pak Amat dari dulu sampai sekarang.

Banyak juga anak dari sekolah lain bahkan tak jarang ibu-ibu juga menjadi langganan tetap Bakso Bakar Pak Amat. Walaupun hanya bakso bakar, namun langganan Pak Amat menjangkau pada siapapun.

Selain enak dan murah, bakso Pak Amat juga terkenal sangat bersih. Contoh kecilnya saja, sepeda motor dan alat panggangannya selalu dibersihkan setiap hari. Daging ayam yang menjadi bahan dasar pembuatan bakso bakar juga dibeli di pasar dan yang pastinya adalah ayam sehat dan segar. Untuk sausnya juga Pak Amat membeli dari pasar untuk kemudian diolah dengan bumbu rempah lainnya.

Semuanya dilakukan Pak Amat sendiri karena isterinya sudah meninggal saat melahirkan anak semata wayangnya 10 tahun yang lalu yang sekarang sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas 5, dan Pak Amat berjualan di tempat anaknya bersekolah agar lebih mudah dan cepat saat menjemput anaknya. Jika sekolah sedang libur, Pak Amat menitipkan anaknya pada  tetangga sebelah yang kebetulan seorang lansia yang tinggal sendiri.

Pak Amat tinggal di rumah kecil di belakang sekolah. Rumah Pak Amat cukup luas, rumah itu merupakan satu-satunya peninggalan dari orang tuanya untuk Pak Amat. Di halaman depan Pak Amat menanam 1 pohon mangga, 2 pohon pisang, dan beberapa pot tanaman hias.

Selain berjualan bakso bakar, Pak Amat juga suka bertanam dan juga berbisnis bonsai. Keahlian itu didapat dari kakeknya yang merupakan pebisnis besar berbagai macam tanaman hias pada masanya dan sekarang diteruskan oleh Pak Amat.

Bahkan tanaman bonsai Pak Amat pernah diborong oleh pejabat tinggi pusat saat berkunjung ke kampung. Pak Amat memang dikenal "bertangan dingin" sehingga tanaman apapun pasti akan tumbuh dan terawat baik.

Walaupun bisnis Pak Amat berjalan baik, tidak lantas membuat Pak Amat menjadi pelit dan tinggi hati. Tapi justru Pak Amat semakin ramah dan selalau membantu setiap orang yang kesusahan. Pak Amat selalu menyisihkan seperampat dari penghasilannya untuk disumbangkan kepada panti asuhan atau untuk membantu orang-orang yang memang membutuhkan.

Tak jarang Pak Amat menggelar semacam syukuran dengan mengundang anak-anak yatim piatu untuk makan di rumahnya. Buah mangga dan pisang juga bebas diambil bagi yang mau, asal sudah permisi terlebih dahulu. Maka tak heran jika banyak orang yang menyukai Pak Amat. Para tetangga juga sesekali mengantarkan makanan mengingat usia dan anak Pak Amat yang masih kecil. Mereka hidup berdampingan satu sama lain, terasa sangat damai.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline