Lihat ke Halaman Asli

Geraldo Horios

没有人 v ホセ

Kenapa Sritex "Leader Tekstil Indonesia" Berdarah-darah?

Diperbarui: 23 November 2023   14:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pabrix sritex/bloomberg by getty images

Siapa yang tidak mengenal Sritex? Sritex sering disorot televisi nasional karena memasok baju militer untuk Jerman, Nato, dan 34 negara lainnya. Perusahaan ini digagas oleh H. M. Lukminto pada tahun 1966 dengan nama Sri Rejeki Isman (Sritex). Sritex berkantor pusat di Sukoharjo Solo dan masuk ke bursa saham pada tahun 2013 dengan kode (SRIL).

kompas.com/Pramdia Arhando Julianto

Sritex merupakan pemimpin di industri tekstil dan garmen Indonesia melalui Anugrah Perusahaan Tbk pada tahun 2016. Keruntuhan SRIL mulai terlihat nyata pada 18 Mei 2022 sejak sahamnya digembok oleh Bursa Efek Indonesia. SRIL berpotensi delisting karena sahamnya sudah 30 bulan berhenti diperdagangkan. Kenapa Sritex leader tekstil dan garmen Indonesia bisa jatuh terpuruk?

1. Terlilit Utang

Mengacu pada laporan keuangan SRIL Q3 2023, Utang perseroan sebesar USD 1,55 miliar atau setara Rp 24 triliun. Jumlah utang ini lebih besar dari jumlah aset perusahaan yang sebesar USD 653,51 juta. Meskipun menjual semua asetnya, Sritex dipastikan tidak bisa melunaskan utang. 

Utang Sritex terdiri atas utang bank jangka pendek dan panjang, sewa, obligasi, dan lainnya. Kondisi Sritex semakin parah karena penjualan terus menurun yang menyebabkan perusahaan rugi sebesar USD 115,20 juta atau setara Rp 1,7 triliun pada Q3 2023. Rugi ini lebih besar jika dibandingkan pada Q3 2021 yang sebesar Rp 1,3 triliun. 

2. Covid

MNC Media

Titik balik runtuhnya Sritex terjadi saat pandemi ditandai penurunan penjualan setiap kuartal. SRIL yang penjualannya berorientasi ekspor terpukul sangat keras atas pemberlakuan lockdown negara lain. Hal ini diperparah peningkatan biaya-biaya lain seperti biaya logistik untuk ekspor. 

Disaat penjualan ekspor berkurang, SRIL masih harus menelan rasa sakit karena daya beli lokal untuk produk garmen juga terbatas saat pandemi. Penjualan yang terus turun ditambah biaya operasional dan bunga perbankan yang tetap ada menggerus kas perusahaan. 

3. Persaingan Pasar

Covid berakhir dan beberapa emiten tekstil sudah mulai menunjukkan laba positif pada tahun 2022. Namun hal ini tidak terjadi pada SRIL. Mengapa demikian? Penulis melihat kalau covid merubah persaingan pasar tekstil dan garmen secara global.

Pelanggan Sritex mulai beralih ke produsen lain dan beberapa pemain tekstil dan garmen di luar negeri seperti India dan Thailand mampu ekspansi dengan sangat baik. Beberapa brand pakaian mahal beralih mengambil kain dan produk jadi dari India dan produk pakaian jadi dari Thailand mengambil porsi pasar Indonesia. 

Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline