Lihat ke Halaman Asli

Marhento Wintolo

Praktisi Ayur Hyipnoterapi dan Ananda Divya Ausadh

Perilaku Ojek Biasa Mencerminkan Diri Kita Secara Umum

Diperbarui: 28 Juli 2015   10:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Banyak orang mulai jatuh cinta dengan pola transportasi Go Jek yang dirasakan bermanfaat bagi warga yang jenuh menghadapi kemacetan yang semakin parah terjadi di kampung besar yang bernama Jakarta. Ya, Jakarta bukanlah kota metropolitan, sekedar kampung besar yang diisi oleh yang namanya mall dan kantor yang manusaianya belum siap menjadi penghuni kota.

Kebanyakan mentalitasnya masih kualitas primitif yang masih belum bisa dikatakan beradab. Baik yang di lapisan atas maupun di bawah. Cara berpikir yang masih menggunakan pola semaunya sendiri. Cara pikir SMS, senang melihat orang lain susah. Tidak juga mengherankan, karenapada umumnya pendatang yang nhadir di Jakarta silau oleh mudahnya mengkais rejeki lebih mudah di kota besar daripada tempat asalnya.

Kemacetan yang begitu tinggi menciptakan stress pada hampir setiap warga yang masih beraktivitas kerja, mendodrong seseorang yang cerdas menciptakan peluang bisnis sekaligus kenyamanan bagi pengguna, inilah yang disebut Go Jek yang sistem kerjanya berbasis aplikasi. Si manajemen aplikasi menikmati keuntungan, para driver Go Jek menikmati hasil yang baik, para pengguna pun merasakan kenyamanan yang beda dengan penggunaan ojek biasa.

Sayangnya, penghasilan Go Jek dan semakin banyaknya para warga lebih percaya menggunakan jasa transportasi yang siap menembus kemacetan yang semakin parah telah membuat para ojek biasa irihati. Inilah penyakit kita semua, tidak senang melihat orang lain senang. 

Kemungkinan besar para ojek biasa ini lebih suka bermalas-malasan dengan hanya menunggu sambil tidur-tiduran harapkan datang penumpang. Kemudian, yang parah lagi, kebanyakan dari mereka sering menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Dengan sistem sedikit menekan, karena tahu si pengguna jasa butuh, mereka menetapkan tarif tinggi. Merasa dibutuhkan, para ojek ini menekan. Jelas hal ini tidak disukai oleh si pengguna jasa. Mereka dengan terpaksa menggunkan ojek sambil ngomel. Apakah ini berkah bagi si tukan ojek? Jelas tidak. Si pengojek menggunakan pola pemaksaan. Belum lagi dari segi etika dan pelayanan.

Berbeda dengan Go Jek. Mereka menjalani pendidikan terlebih dahulu sebelum menjadi pengemudi Go Jek. Manajemen Go Jek sadar bahwa pelayanan pada para pelanggan lebih utama. Kenyamanan dan keamanan pengguna jasa menjadi basis pelayanan. Oleh karenanya, banyak masyarakat sekarang semakin cinta dalam menggunakan Go Jek. Selain pelayanan, juga harganya sudah ditentukan sehingga si pengguna jasa tidak perlu lagi bersitegang tentang ongkos. Semuanya berjalan sesuai kesepakatan.

Permasalahan antara ojek biasa dan Go Jek disebabkan jenjang pendapatan yang semakin tinggi antara ke duanya. Tidak mengherankan, karena banyak orang semakin sukan menggunakan jasa yang lebih ramah dan lebih dapat dipercaya. 

Apakah seperti ini pola pikir kebanyakan dari kita?

Tidak mau hidup atau mencari duit dengan lebih sopan?

Bukan kah tidak beda dengan para penjahat yang berkerah?

Mau cari duit dengan mudah tanpa kerja keras,

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline