Lihat ke Halaman Asli

Dulu Menjilat Sekarang Melaknat

Diperbarui: 15 Februari 2016   18:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pagi tadi, sekitar pukul 10.00 WIB, Forum Komunitas Masyarakat Pinggiran Rel (FKMPR) bersama 11 elemen organisasi masyarakat dan kemahasiswaan turun ke jalan menindaklanjuti kekecewaan terhadap pemerintah Kota Medan yang masih saja tidak peduli dengan nasib warganya. Ke sebelas elemen tersebut yaitu LBH Medan, Kontras, GMKI Cabang Medan, GMNI UISU, SMI (Serikat Mahasiswa Indonesia), SBSI 1992, BEM UMSU, BEM Nomensen, Semar, TepLok, dan PI (Pergerakan Indonesia). Tujuannya adalah meminta Pemerintah Kota Medan memberi solusi terkait penggusuran masyarakat pinggiran rel yang akan dilakukan oleh PT. KAI sehubungan dengan akan dilaksanakannya pembangunan infrastruktur kereta cepat di Medan.

Yang menjadi tuntutan masyarakat adalah adanya keadilan dan perikemanusiaan dari Pemko Medan dan PT. KAI. Secara sadar dan bertanggung jawab masyarakat mendukung pembangunan kereta cepat di Kota Medan, dan tidak memiliki niat untuk menghalang-halanginya. Masyarakat hanya ingin pemangku amanah dan pembuat kebijakan juga memikirkan nasib warga yang tinggal sudah cukup lama dan menggantungkan kehidupannya di pinggiran rel tersebut. Mereka juga meminta supaya pemerintah tidak semena-mena membuat sebuah kebijakan yang malah menyengsarakan masyarakat.

Namun nyatanya, pejabat Pemerintah dengan keahliannya untuk berkelit cukup lihai untuk menepis seluruh aspirasi masyarakat. Dengan alasan koordinasi, entah koordinasi dengan siapa, hantu mungkin, masyarakat yang sudah akan digusur diluntang lantungkan. Semestinya Pemerintah Kota Medan yang visinya "Medan Rumah Kita" bisa menjamin keberlangsungan hidup warganya di tempat tinggal yang layak.

Masih segar di ingatan kita euforia pemilihan kepala daerah, dimana sampai-sampai para calon kandidat "blusukan" ke rumah-rumah warga untuk mendapatkan simpati warga (Kalau bahasa aktivisnya MENJILAT). Dengan menawarkan program-program yang begitu mantapnya, mereka rela menSALESkan dirinya hanya untuk bisa duduk di kandang tikus kantor (kata OI). Dusun per dusun, kelurahan per kelurahan mereka tapaki dengan senyuman manis untuk membuat warga terpikat.

Setelah terpilih mereka rupanya jadi tikus betulan, yang selalu menggerogoti padi yang tumbuh, namun ketika padinya sudah hancur, tikusnya malah berkeliaran entah kemana, musim kawin katanya. Kenapa mereka disandingkan dengan tikus oleh Bang Iwan Fals? Mungkin karena mereka sering ingkar janji, atau mungkin karena memang mereka tak pernah kenyang, maka mereka menggerogoti rakyatnya sendiri. Tapi entahlah, dia dan Tuhannya lah yang tau.

Kesimpulan yang bisa kita buat dari sikap Pemko Medan ini adalah dulu sebelum terpilih mereka ahli menjilat, namun setelah terpilih, keahliannya bertambah, yaitu melaknat. Semoga saja mereka cepat bertobat. Mereka dipilih bukan di lotre. Mereka dipilih untuk mengurusi rakyat. Mereka seharusnya adalah abdi rakyat. Ketika mereka tidak mampu melaksanakan amanah rakyat, api neraka yang panasnya lebih panas dari matahari, akan menjadi tempat terakhir mereka.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline