Baru-baru ini viral video yang menampilkan pengurangan digit angka pada uang baru Bank Indonesia (BI). Konfirmasi BI, informasi dalam video tersebut adalah hoaks sebagaimana diberitakan Kompas.com (30/11). Video semacam itu sebenarnya sudah berulang kali muncul, entah apa tujuan penyebarnya.
Mengenai penyederhanaan jumlah digit Rupiah, kebijakan tersebut memang rencana lama BI dan pemerintah. Rancangan ketentuannya pun sudah dipublikasikan yaitu Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Harga Rupiah (RUU Redenominasi).
RUU dimaksud juga telah disampaikan pemerintah kepada DPR lalu pernah diusulkan masuk dalam Program Legislasi Nasional tahun 2015-2019.
RUU Redenominasi hingga saat ini belum disahkan. Isu penyederhanaan digit rupiah pun sewaktu-waktu muncul meskipun eskalasinya kecil.
Mengingat implementasi ketentuan semacam itu dapat berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia, tentunya banyak kondisi yang melatarbelakangi penundaan penerapannya.
Pengurangan Digit Rupiah
Penyederhanaan jumlah digit pada pecahan Rupiah tanpa mengurangi daya beli, harga, atau nilai tukar Rupiah terhadap harga barang atau jasa dikenal dengan Redenominasi. Bentuk kebijakan tersebut adalah penghilangan tiga angka nol dalam Rupiah lama.
Sederhanya, setiap seribu Rupiah lama nilainya sama dengan satu Rupiah setelah redenominasi. Setiap satu Rupiah setelah Redenominasi nilainya sama dengan seratus Sen. Jadi, muncul satuan baru Sen untuk Rupiah lama di bawah seribu Rupiah.
Ilustrasinya, apabila terjadi Redenominasi Rp100.000 menjadi Rp100 maka harga barang yang semula Rp100.000 akan menyesuaikan menjadi Rp100. Untuk itulah, Redenominasi ini sebatas pengurangan digit uang dan harga.
Redenominasi berbeda dengan Sanering yang merupakan pemotongan nilai uang sedangkan harga barang-barang tetap, bahkan cenderung meningkat sehingga daya beli efektif masyarakat menjadi menurun.