Lihat ke Halaman Asli

Handy Pranowo

TERVERIFIKASI

Love for All Hatred for None

Yang Telah Pergi

Diperbarui: 18 Oktober 2017   00:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Aku masih menyimpan kepergianmu di antara percik hujan musim kemarau tahun lalu. 

Seperti sebuah dongeng menjelang tidur yang terlipat di balik selimut, kisahmu masih saja terngiang tanpa ujung.

Hendak ku buang kemana, jejakmu masih ada di sebagian teras halaman rumah.

Aku yakin kamu telah merubah namaku menjadi kenangan atau bahkan dengan sendirinya akan 

menjadi pecahan-pecahan kerikil yang cukup untuk merobek langkah kakimu yang getir.

Jujur, kita berjumpa di saat segalanya tidak memungkinkan, di waktu yang sempit hingga setiap detik menjadi sulit

menterjemahkan keadaan meski terus kau jejali paru-paruku dengan rindu yang cukup membuatku terserang batuk.

Hanya sekejap saja kita menjelma menjadi hening ketika malam merayakan gerimis yang paling amis di kenang.

Setelah itu kamu hilang, loncat dari pagar pandanganku yang belum selesai ku tuliskan nama dan alamat rumahku.

Aku tak bisa menerimamu utuh sebagaimana mestinya, sebagaimana tanah menerima hujan di kala kemarau melanda. 

Sebab, aku telah menjadi samudera, samudera yang tak bisa di arungi siapapun kecuali angin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline