Lihat ke Halaman Asli

Halima Maysaroh

TERVERIFIKASI

PNS at SMP PGRI Mako

Selamat Hari Buku Nasional: Minat Baca Rendah, Siapa yang Merayakannya?

Diperbarui: 19 Mei 2023   14:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok: Pribadi

Hari ini, Rabu, tanggal 17 Mei 2023 bertepatan dengan Hari Buku Nasional (Harbuknas). Hari Buku Nasional pertama kali dicetuskan oleh Mentri Pendidikan era Kabinet Gotong Royong yaitu Abdul Malik Fadjar tahun 2002 silam. 

Ini artinya perayaan Hari Buku Nasional telah berlangsung lebih dari dua dekade lamanya. Penentuan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional diambil dari tanggal dan bulan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Hari Buku Nasional tercetus sebab permasalahan budaya membaca yang rendah di Indonesia. Di tahun 2002 UNESCO mencatat bahwa angka melek huruf di Indonesia pada orang dewasa hanya 87,9%. Angka tersebut lebih rendah dibanding negera-negara di Asia Tenggara lainnya. Cukup memprihatinkan mengingat kegemaran membaca memiliki andil dalam kemajuan suatu bangsa. 

Budaya membaca juga  berawal dari kemampuan membaca terlebih dahulu. Jika warga negaranya belum merata melek huruf, sampai kapan dan sampai mana negara akan berkembang pesat selayaknya negara maju lainnya?

Berikutnya UNESCO juga mentatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 rakyat Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki kegemaran membaca. Indonesia menduduki urutan ke-60 dari 61 negara tentang survei minat baca. Miris, bukan?

Jika kenyataannya seperti ini, siapakah yang merayakan Hari Buku Nasional? Satu orang dari 1.000 orangkah? Apa yang harus dilakukan oleh segelintir orang pecinta buku ini?

Melakukan kampanye Hari Buku Nasional di Sosial Media dan Blog Pribadi

Di era serba digital ini, kampanye tidak melulu berbondong-bondong ke jalanan dan menyebar flayer soal ajakan membaca buku. Sosial media yang telah dimiliki sekian banyak orang dapat dimanfaatkan untuk melakukan kampanye.

Apalagi dilansir dari kominfo.go.id bahwa masayarakat Indonesia malas membaca tapi cerewet di medsos. Jadi, media sosial dapat berperan besar untuk digunakan oleh segelintir kaum-kaum penyuka buku untuk mengampanyekan betapa pentingnya membaca hingga ada perayaan Hari Buku Nasional Indonesia.

Selain kampenye diberbagai sosial media, blog pribadi seperti Kompasiana ini juga dapat menjadi sarana kampanye seperti ulasan ini. Suarakanlah betapa pentingnya kemampuan membaca dan membudayakannya. Budaya membaca adalah aset bangsa. Mari teman-teman, melek baca dan suarakan betapa anugrah mendapat informasi dari membaca.

Menyisihkan Uang untuk Membeli Buku Asli

Sebagai pecinta buku dapat merayakan Hari Buku Nasional dengan membeli buku baru sebagai hadiah untuk diri dalam memuaskan minat membaca. Tidak lupa buku yang dibeli adalah buku asli, bukan bajakan. Ini dilakukan demi keberlangsungan buku asli dan penghargaan bagi penulis juga penerbitnya. Ini dilakukan agar kelestarian buku asli tetap terjaga.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline