Lihat ke Halaman Asli

Hadi Santoso

TERVERIFIKASI

Penulis. Jurnalis.

"Kemenangan Ajaib" Antar Praveen/Melati ke Semifinal All England 2020

Diperbarui: 14 Maret 2020   09:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan dan Melati Daeva, tampil hebat di perempat final All England tadi malam. Mereka meraih kemenangan 'ajaib' atas ganda Tiongkok unggulan 2, Wang Yilyu/Huang Dongping untuk lolos ke semifinal | Foto: badmintonindoensia.org

Paulo Coelho, novelis asal Brasil yang berhasil menaklukkan industri perbukuan internasional, punya pandangan menarik perihal takdir dan nasib. Dua hal yang bagi sebagian orang dianggap mirip, tapi sejatinya tidak sama.

Tentang nasib, Coelho mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa karena itu bukan urusannya. Menurutnya, itu sudah ada yang mengatur. Tetapi tidak dengan takdir.

Kata dia: "Aku bisa mengendalikan takdirku, tapi bukan nasibku. Takdir berarti ada peluang untuk berbelok ke kanan atau ke kiri, tapi nasib adalah jalan satu arah".

Bila ditarik ke ranah olahraga, ujaran Paulo Coelho itu berwujud pada slogan impossible is nothing. Bahwa dalam pertandingan olahraga di lapangan dan arena manapun, tidak ada yang tidak mungkin diraih selama punya semangat kuat untuk berhasil.

Perihal impossible is nothing ini, rasanya kok pas dengan ujaran terkenal Coelho dalam buku larisnya, The Alchemist. Bahwa "saat kamu menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bersatu membantumu meraihnya."

Tadi malam, semangat untuk menentukan takdir sendiri dan juga bantuan semesta untuk mewujudkan keinginan itu seperti berpadu menjadi satu dalam kisah ajaib penampilan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti di turnamen elit All England Open 2020.

Praveen dan Melati memastikan lolos ke semifinal, Jumat (13/3) malam setelah meraih kemenangan ajaib atas ganda campuran Tiongkok, Wang Yilyu/Huang Dongping yang merupakan unggulan 2 dan lebih difavoritkan menang karena unggul head to head 1-6.

Ajaib, tertinggal 10-18 di game kedua ternyata bisa menang
Kenapa disebut kemenangan ajaib? Bila melihat cuplikan pertandingan di Youtube perihal bagaimana perjuangan Praveen dan Melati, terutama di game kedua, kita akan paham bahwa kemenangan seperti itu sangat jarang terjadi.

Di game pertama, Praveen/Melati takluk 15-21. Artinya, mereka harus tampil bagus di game kedua untuk menghidupkan peluang dan memaksakan rubber game (game ketiga). Yang terjadi, ganda Tiongkok malah mendominasi jauh dalam perolehan poin.

Yilyu/Dongping sudah unggul 18-10 poin. Praveen dan Melati sejatinya sudah dalam situasi di ujung tanduk. Lha wong lawan hanya butuh 3 poin lagi untuk mencapai angka 21 dan memenangi pertandingan.

Pun, dengan sistem reli poin yang setiap kesalahan bisa berbuah poin bagi lawan (tidak ada pindah bola), sangat sulit mengejar selisih 8 poin tersebut. Kalaupun bisa menambah poin, rasanya mustahil bisa menyalip poin lawan yang sedang on fire. Apalagi, lawan sedang melakukan serve.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline