Lihat ke Halaman Asli

Habil Ramadhan

Mahasiswa - Sains Kimia

Sampah Elektronik (E-Waste): Peluang Emas atau Ancaman Diam?

Diperbarui: 27 April 2024   20:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Treehugger

Sampah Elektronik (E-Waste)

Di era 4.0 ini, di mana terjadi perpaduan antara dunia fisik dan dunia digital melalui teknologi yang sangat canggih, sehingga hal itu menyebabkan maraknya penggunaan perangkat elektronik seperti televisi, komputer, smartphone, dan perangkat elektronik lainnya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi membuat hidup lebih mudah seperti dalam bidang industri, di mana dalam proses  produksi menjadi lebih otomatis, efisien, dan cerdas dengan penggunaan robot dan AI. Namun, penggunaan produk elektronik yang sangat canggih dapat membahayakan lingkungan dan seiring dengan kemajuan teknologi yang cukup pesat, perangkat elektronik ini cepat terlihat jelek dan digantikan dengan yang baru. Sehingga hal itu menyebabkan timbunan limbah elektronik yang harus diberi perhatian lebih karena sangat mengkhawatirkan.

Menurut Monitor Limbah Elektronik Global PPB menyatakan bahwa dunia telah menghasilkan 62 juta ton limbah elektronik pada tahun 2022. Dan jumlah tersebut diprediksi dapat meningkat secara pesat hingga 80 juta ton limbah elektronik pada tahun 2030 mendatang. Dikarenakan rata - rata setiap orang di Bumi menyumbang sekitar 7,8 kilogram limbah elektronik setiap tahunnya.

Apa Itu Sampah Elektronik (E-Waste)

Sebagaimana dari katanya yakni "Sampah" dan "Elektronik", yaitu peralatan elektronik yang tidak dapat digunakan lagi dan dibuang begitu saja, bisa berupa barang elektronik rusak, ketinggalan zaman, atau memang tidak diinginkan lagi. Contohnya seperti smartphone, komputer, laptop, kulkas, kipas angin, dan lain - lain. Jika tidak dikelola dengan baik, e-waste dapat menjadi ancaman diam bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Dampak Negatif Sampah Elektronik 

E-Waste termasuk kategori sampah B3(Bahan Berbahaya dan Beracun). Hal ini dikarenakan komponen penyusun barang elektronik mengandung zat berbahaya, seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Jika E-Waste tidak dikelola dengan baik, zat berbahaya tersebut bisa mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia, seperti mencemari tanah dan air, menyebabkan gangguan kesehatan manusia, seperti kanker, kerusakan otak, dan gangguan sistem reproduksi, akibat tidak kesengajaan mengonsumsi zat berbahaya tersebut melalui air minum atau sumber lain dan terkena paparan, memperparah efek rumah gas kaca dikarenakan proses pembakaran E-Waste yang tidak tepat.

Potensi Sampah Elektronik (E-Waste)

E-Waste bukan hanya membuat masalah lingkungan, akan tetapi menyimpan potensi ekonomi yang besar. Di balik tumpukan E-Waste, terdapat berbagai sumber daya berharga yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali. Berikut beberapa peluang dari E-Waste:

1. Sumber Bahan Baku Baru

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline