Lihat ke Halaman Asli

grover rondonuwu

Aku suka menelusuri hal-hal yang tersembunyi

Menebarkan Kabar Gembira di Tengah Ancaman

Diperbarui: 7 April 2020   10:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Virus Corona lebih banyak menyerang sisi psikologis manusia  dari pada fisiknya. Menurut data terakhir, jumlah orang yang terinfeksi Virus Covid 19 didunia ini, berkisar 1 juta orang. Bandingkan dengan jumlah penduduk dunia yang berkisar 7,7 milyar orang.

Virus Covid-19  merusak sisi psikologis manusia secara massal, merata diseluruh pernduduk bumi. Serangan psikologis ini mengakibtkan kekawatiran, ketakutan, kepanikan, kecurigaan dan  ilusi.

Dampaknya psikologis dari Covid-19 ini jauh lebih dasyat dari ancaman infeksi tubuh. Contoh sederhana, ketika orang bersin karena alergi debu, orang-orang disekitar serentak menghindar. Dokter-dokter, perawat yang menangani pasien infeksi Virus ini, diusir dari tempat tinggalnya. Korban mati ditolak oleh penduduk untuk dikuburkan. Dampak psikologis virus ini membuat orang kehilangan akal sehat dan kehilangan sensitivitas.

Karena itu penanganan pandemi ini bukan hanya urusan para medis saja. Terapi psikologis mestinya mendapat tekanan besar dari pakar psikologi sosisal dan psikologi klinis. 

Salah satu terapi psikologis yang terbukti efektif menimbulkan imunitas massal, yaitu membanjiri narasi-narasi positive kepada rakyat melalui media konvensional dan media sosial.

Penelitian di Universitas Oxford membuktikan bahwa narasi positif mengakibatkan partisipan lebih rileks, bahagia, dan nyaman dengan diri sendiri. Detak jantung  berfungsi baik dalam beragam situasi.

Kondisi ini berbanding terbalik saat  partisipan  diperdengarkan narasi negatif. Respon alami tubuh menunjukkan detak jantung meningkat dratis.

Narasi positif merangsang pikiran positif. Pikiran positif terbukti memperkuat sistem imun manusia. Demikian William Kuyken, Profesor Psikologi Klinis Universitas Oxford.

Narasi Positif Landasan Obyektif
Narasi positive bisa saja fiksi atau non fiksi. Sebuah narasi non fiksi dalam bentuk berita, mesti berlandaskan fakta obyektif yang positif juga. Bukan berita positif dengan landasan palsu atau tidak berdasar pada kenyataan dan tidak memenuhi kriteria akal sehat.

Contoh narasi positif yang membanjir dimedia sosial kita adalah, berita-berita tentang kesembuhan pasien-pasien yang terinfeksi virus Covid-19.

Berita kesembuhan itu adalah obyektif, karena faktanya tidak dibuat-buat, bisa diverifikasi. Berita seperti ini sangat baik dibagikan sebanyak-banyaknya kepada publik.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline