Lihat ke Halaman Asli

Mengenang Kepergianmu di Hari Ibu.

Diperbarui: 28 Januari 2019   22:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Doc. Pribadi

[blog ini akan lebih panjang dari biasanya. Not trying to sell my mom's story, tapi aku hanya ingin menyadari kalian, untuk kalian yang masih memiliki Ibu, kalian harus menjaga Ibu kalian sebaik mungkin, karena ibu jauh lebih berharga dari apapun, dan yang paling penting, ibu adalah Pintu Surga paling utama untuk anaknya.]

dokpri

"Can we go back to a time when everything felt so fine?" itu menjadi kata-kata yang paling sering ku ucapkan dalam hati.

Satu bulan yang lalu, tepatnya Rabu malam tanggal 07 November 2018 pukul 09.03PM dimana aku sedang berteriak-teriak nangis kencang, belum pernah nangis yang sesedih itu, lemes, gatau harus berbuat apa, karena pada malam itu adalah malam disaat aku menuntun Bunda di nafas terakhirnya. 

Saat itu hanya ada aku dan Tante ku (Adik Bunda yang paling kecil), dan juga ada assistant rumah tangga yang ngebantu jagain Bunda dan nemenin aku selama di RS kalau Bunda di rawat, karena aku punya adik yang masih sekolah, jadi Papah setiap malam pulang kerumah dan gantian jaga dengan aku karena aku kalau siang kerja, kebetulan Papah udah pensiun, jadi selama beliau pensiun beliau fokus ngerawat Bunda.

Sedih, lemes, campur aduk rasanya. Saat itu, Cuma pengen Bunda bangun, pengen peluk Bunda terus, pengen ada di samping Bunda terus. Gatau harus gimana ngabarin Papah yang lagi dirumah dan aku rasa Papah saat ditelfon saat itu juga baru sampe rumah karena Papah belum lama baru jalan pulang dari RS. 

Kondisi aku yang nangis kejer takut bikin kaget Papah kalau aku nelfon nangis-nangis karena Papah ada riwayat sakit jantung, aku bener-bener bingung saat itu harus ngapain. Pada akhirnya aku minta tolong tante aku untuk telfonin sanak saudara termasuk Kakak-Kakak dan juga Papah, iya saat itu aku cuma nangis dan melukin Jenasah Bunda.

Amat sangat berharap lebih ada keajaiban dimana tiba-tiba Bunda bangun lagi dan ngajak bercanda, Aku merhatiin monitor jantungnya terus dari saat sedang di pompa jantung sampai denyutnya udah mulai hilang, tapi benar-benar berharap ada keajaiban saat itu juga, karena aku percaya Bunda kuat. 

Ya, aku teriak-teriak "Bun, ayooo Bunda kuat, Bunda bisa lewatin ini semua", aku pegang kakinya udah mulai dingin, tapi aku pegangin terus dengan penuh pengharapan kalau aku pegang akan kembali hangat, seperti biasa kalau tangan dan kaki mulai dingin biasanya tanda Bunda mau demam, jadi suka Aku pegangin sampai hangat. Tapi kali ini berbeda, Bunda udah cukup kuat melawan ini semua, tepat tanggal 07 November 2018 pukul 09.03PM, Bunda udah gak sakit, Bunda udah sembuh, Bunda udah bisa menghirup udara bebas, udara bersih, dan gak perlu bolak-balik ke rumah sakit untuk kontrol untuk operasi dan untuk terapi lagi.

Doc. Pribadi

Bunda.

Adalah ibu yang sangat kami bangga-bangga kan. Beliau orang yang kuat, ya beliau melawan penyakitnya yang cukup parah hampir dua tahun. Penyakitnya yang berawal dari Hypertensi, karena sedikit kelalai-an dan pembuluh darah yang menipis pada akhirnya terjadi lah Pecah Pembuluh Darah (Aneurisme) di Kepala bagian otak kiri. 

Penyakit itu harus cepat ditangani karena kalau tidak cepat bisa berakibat sangat vatal, bisa merusak otak, bisa juga merenggut nyawa, karena Otak kita itu tidak boleh terendam darah, itu bisa merusak sel atau jaringan otak (kata dokter).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline