Lihat ke Halaman Asli

Pembaruan Pemikiran Islam menurut Muhammad Iqbal

Diperbarui: 9 Agustus 2024   18:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Pendahuluan
Perkembangan Islam di India dimulai setelah era Abbasyiah di Baghdad dan era Umaiyah di Cordova berakhir. Sebelumnya, masyarakat India bermayoritas Hindu karena pengaruh bangsa Dravida dan bangsa Arya. Agama Islam diperkenalkan melalui perdagangan Arab India yang kemudian mempengaruhi kebudayaan Hindu di sana. Konsep asketisme menjadi penting dalam agama Hindu dan Buddhist di India, memengaruhi praktik Muslim di India. Namun, beberapa Muslim India terlalu menyanjung tokoh Islam dan cenderung pasrah pada nasib, menyebabkan pembekuan pemikiran. Tokoh pemikir seperti Muhammad Iqbal berperan penting dalam pembaharuan pemikiran Islam di India, dengan menawarkan solusi untuk masalah yang dialami umat Islam di India. Ia dikenal sebagai bapak Pakistan dan diakui sebagai pembaruan pemikiran yang kreatif. Tulisan ini membahas pemikiran Muhammad Iqbal dalam proses pembaharuan pemikiran Islam di Asia Selatan, khususnya India, sebagai upaya untuk menggali lebih dalam kontribusinya dalam peradaban Islam di wilayah tersebut. Muhammad Iqbal, seorang pemikir dan filosof asal Pakistan, dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam pembaharuan pemikiran Islam pada abad ke-20. Ia lahir pada tahun 1877 di Punjab, India Britania (sekarang bagian dari Pakistan) dan dikenal dengan sebutan "Allama Iqbal".
 Pemikiran Muhammad Iqbal mengenai pembaharuan pemikiran Islam sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik yang dialami umat Islam pada masanya. Ia menekankan pentingnya untuk menggabungkan ajaran Islam dengan nilai-nilai kemajuan dan kebebasan individu. Iqbal juga menyoroti perlunya umat Islam untuk kembali kepada akar-akar ajaran Islam yang otentik, namun tetap relevan dengan zaman modern.
 Salah satu konsep utama dalam pemikiran Iqbal adalah konsep "Khudi" atau ego yang kuat, yang menekankan pentingnya individu untuk mengembangkan potensi diri dan menjadi manusia yang merdeka secara spiritual dan intelektual. Ia juga memperjuangkan kesetaraan sosial dan keadilan dalam masyarakat.
 Melalui karya-karyanya, seperti "The Reconstruction of Religious Thought in Islam" dan puisi-puisinya yang indah, Muhammad Iqbal berhasil menginspirasi banyak orang untuk memahami Islam dengan cara yang lebih inklusif, progresif, dan relevan dengan zaman. Kontribusinya terhadap pemikiran Islam telah memberikan dampak yang besar dalam upaya memperbarui dan memperkaya pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya.
Pembahasan
1. Biografi Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal (1877--1938) adalah seorang filsuf, penyair, dan politisi Islam di India Britania. Ia lahir pada 9 November 1877 di Sialkot, Punjab (sekarang Pakistan) dari orangtua Kashmiri. Iqbal dikenal sebagai salah satu penyair terbesar abad ke-20, dan visinya tentang sebuah ideal budaya dan politik bagi umat Muslim India yang dikuasai Inggris dianggap telah mendorong gerakan Pakistan. Iqbal menerima gelar kebangsawanan pada tahun 1922 dan dikenal karena upayanya yang berpengaruh dalam membimbing sesama Muslimnya di India yang diperintah Inggris menuju pembentukan negara Muslim yang terpisah, aspirasi yang akhirnya terwujud dalam negara Pakistan. Ia juga dikenal sebagai "Allama Iqbal," dan diakui sebagai Pujangga Nasional Pakistan. Pendidikan Iqbal termasuk BA dalam filsafat, sastra Inggris, dan Arab dari Government College University. Ia juga seorang cendekiawan hukum dan politik. Karya-karyanya, seperti "The Reconstruction of Religious Thought in Islam," memperlihatkan pemikiran filosofis dan religius yang mendalam. Muhammad Iqbal meninggal pada 21 April 1938 di Lahore, Punjab, setelah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pemikiran Islam, kesusastraan, dan politik. Ia tetap diingat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah intelektual Islam modern.
2. Pembaharuan Pemikiran Muhammad Iqbal
Pembaruan pemikiran Muhammad Iqbal terinspirasi dari dua tokoh yaitu Syah Wali Allah dan Sir Sayyid Ahmad Khan. Ia ingin mengembalikan kejayaan Islam dengan menggabungkan ajaran Islam dengan filsafat dan sains modern. Iqbal juga menekankan pentingnya kedinamisan dalam Islam, menjauhkan pandangan statis dan mendukung pandangan dinamik. Ia memperkuat ide ijtihad dalam Islam, menekankan pentingnya usaha keras dalam agama dan membentuk pemikiran bebas mengenai hukum. Iqbal juga aktif dalam bidang politik, memperjuangkan kemerdekaan India dan persatuan umat Islam dan Hindu. Namun, ia menolak nasionalisme Eropa karena melihat ancaman materialisme dan atheisme. Iqbal melihat bahwa konsep nasionalisme India akan sulit menyatukan Hindu dan Muslim, sehingga ia memperjuangkan pembentukan Negara Pakistan sebagai negara Islam terpisah. Ide ini kemudian diresmikan dalam rapat tahunan Liga Muslimin di tahun 1930, di mana Iqbal diakui sebagai Bapak Pakistan.
Selain itu, Iqbal juga mengusulkan ide Pan-Islamisme, di mana ia ingin melihat seluruh umat Islam hidup adil dan makmur tanpa terbatas oleh suku, warna kulit, dan daerah. Menurutnya, dunia Islam dapat dinamisir oleh al-Qur'an dan sunnah, yang akan memastikan kemenangan gerakan Islam secara global. Dengan demikian, Iqbal adalah seorang tokoh pemikir yang menginspirasi pembaharuan pemikiran dan gerakan politik di India pada masa kolonial Inggris. Ia menegaskan pentingnya kedinamisan dalam Islam dan memperjuangkan kemerdekaan serta persatuan umat Islam dengan tujuan menciptakan dunia baru yang adil dan makmur bagi seluruh umat Islam.

Dalam pandangan Iqbal, dunia Islam yang diinginkannya adalah dunia yang diperintah oleh ad-Din, berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah. Gagasan ini menginspirasi pendirian Pakistan oleh umat Islam India di bawah Muhammad Ali Jinnah, murid Iqbal. Iqbal tidak menolak demokrasi, tetapi mengritik demokrasi Barat yang kering dari aspek spiritual. Dia menekankan pentingnya hukum Allah sebagai yang paling tinggi, persamaan mutlak antara anggota komunitas, dan prinsip persamaan sebagai manifestasi tauhid. Iqbal juga menyoroti pentingnya pendidikan tanpa batasan kelasifikasi Timur dan Barat untuk mencegah sektarianisme. Dia menekankan kreativitas dan otentisitas dalam pendidikan, serta pentingnya prinsip dasar pendidikan seperti individualitas, keserasian jasmani dan rohani, evolusi kreatif, dan peranan intelek. Meskipun mendapat pendidikan di Barat, Iqbal menilai kapitalisme dan imperialisme Barat negatif, tetapi mendukung sosialisme. Dalam bidang filsafat, Iqbal mengemukakan kekuatan Tuhan dan ego sebagai pusat kehidupan manusia. Ia menekankan perjuangan manusia untuk mencapai Ego Tertinggi dengan meleburkan diri pada Tuhan. Iqbal menolak konsep penafian diri dalam mencapai kesempurnaan diri, dan menekankan pentingnya ego kreasi atau kesadaran profetik dalam menyatukan diri dengan Tuhan. Kesimpulannya, Iqbal menegaskan perlunya kesadaran mistis dan kesadaran profetik dalam pembangunan sosio-politik umat Islam, serta peran pendidikan yang terbuka dan kreatif dalam mencapai tujuan akhir umat Islam.
Kesimpulan
Muhammad Iqbal, seorang filsuf dan ahli filsafat asal Pakistan, memainkan peran penting dalam perkembangan Islam di India pasca-era Abbasiyah dan era Umaiyah. Ia dikenal sebagai Bapak Pakistan dan dianggap sebagai pemikir yang kreatif. Kontribusi Iqbal terhadap perkembangan Islam di Asia Selatan, khususnya di India, berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut. Filsafat Iqbal dipengaruhi oleh dua gurunya, Syah Wali Allah dan Sir Sayyid Ahmad Khan. Ia bertujuan untuk mengembangkan negara Islam melalui penggunaan ajaran-ajaran Islam modern dan menekankan pentingnya persatuan dalam Islam, pentingnya negara statis, dan peran hukum dalam memajukan pemikiran Islam. Iqbal juga berperan dalam politik, memengaruhi pemerintahan India dan hubungan antara Islam dan Hinduisme. Gagasannya tentang peran agama dalam membentuk dunia Islam modern berpengaruh dalam membentuk masa depan Islam di kawasan tersebut.Pendahuluan

Perkembangan Islam di India dimulai setelah era Abbasyiah di Baghdad dan era Umaiyah di Cordova berakhir. Sebelumnya, masyarakat India bermayoritas Hindu karena pengaruh bangsa Dravida dan bangsa Arya. Agama Islam diperkenalkan melalui perdagangan Arab India yang kemudian mempengaruhi kebudayaan Hindu di sana. Konsep asketisme menjadi penting dalam agama Hindu dan Buddhist di India, memengaruhi praktik Muslim di India. Namun, beberapa Muslim India terlalu menyanjung tokoh Islam dan cenderung pasrah pada nasib, menyebabkan pembekuan pemikiran. Tokoh pemikir seperti Muhammad Iqbal berperan penting dalam pembaharuan pemikiran Islam di India, dengan menawarkan solusi untuk masalah yang dialami umat Islam di India. Ia dikenal sebagai bapak Pakistan dan diakui sebagai pembaruan pemikiran yang kreatif. Tulisan ini membahas pemikiran Muhammad Iqbal dalam proses pembaharuan pemikiran Islam di Asia Selatan, khususnya India, sebagai upaya untuk menggali lebih dalam kontribusinya dalam peradaban Islam di wilayah tersebut. Muhammad Iqbal, seorang pemikir dan filosof asal Pakistan, dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam pembaharuan pemikiran Islam pada abad ke-20. Ia lahir pada tahun 1877 di Punjab, India Britania (sekarang bagian dari Pakistan) dan dikenal dengan sebutan "Allama Iqbal".

 Pemikiran Muhammad Iqbal mengenai pembaharuan pemikiran Islam sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik yang dialami umat Islam pada masanya. Ia menekankan pentingnya untuk menggabungkan ajaran Islam dengan nilai-nilai kemajuan dan kebebasan individu. Iqbal juga menyoroti perlunya umat Islam untuk kembali kepada akar-akar ajaran Islam yang otentik, namun tetap relevan dengan zaman modern.

 Salah satu konsep utama dalam pemikiran Iqbal adalah konsep "Khudi" atau ego yang kuat, yang menekankan pentingnya individu untuk mengembangkan potensi diri dan menjadi manusia yang merdeka secara spiritual dan intelektual. Ia juga memperjuangkan kesetaraan sosial dan keadilan dalam masyarakat.

 Melalui karya-karyanya, seperti "The Reconstruction of Religious Thought in Islam" dan puisi-puisinya yang indah, Muhammad Iqbal berhasil menginspirasi banyak orang untuk memahami Islam dengan cara yang lebih inklusif, progresif, dan relevan dengan zaman. Kontribusinya terhadap pemikiran Islam telah memberikan dampak yang besar dalam upaya memperbarui dan memperkaya pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya.

Pembahasan

1. Biografi Muhammad Iqbal 

Muhammad Iqbal (1877--1938) adalah seorang filsuf, penyair, dan politisi Islam di India Britania. Ia lahir pada 9 November 1877 di Sialkot, Punjab (sekarang Pakistan) dari orangtua Kashmiri. Iqbal dikenal sebagai salah satu penyair terbesar abad ke-20, dan visinya tentang sebuah ideal budaya dan politik bagi umat Muslim India yang dikuasai Inggris dianggap telah mendorong gerakan Pakistan. Iqbal menerima gelar kebangsawanan pada tahun 1922 dan dikenal karena upayanya yang berpengaruh dalam membimbing sesama Muslimnya di India yang diperintah Inggris menuju pembentukan negara Muslim yang terpisah, aspirasi yang akhirnya terwujud dalam negara Pakistan. Ia juga dikenal sebagai "Allama Iqbal," dan diakui sebagai Pujangga Nasional Pakistan. Pendidikan Iqbal termasuk BA dalam filsafat, sastra Inggris, dan Arab dari Government College University. Ia juga seorang cendekiawan hukum dan politik. Karya-karyanya, seperti "The Reconstruction of Religious Thought in Islam," memperlihatkan pemikiran filosofis dan religius yang mendalam. Muhammad Iqbal meninggal pada 21 April 1938 di Lahore, Punjab, setelah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pemikiran Islam, kesusastraan, dan politik. Ia tetap diingat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah intelektual Islam modern.

2. Pembaharuan Pemikiran Muhammad Iqbal 

Pembaruan pemikiran Muhammad Iqbal terinspirasi dari dua tokoh yaitu Syah Wali Allah dan Sir Sayyid Ahmad Khan. Ia ingin mengembalikan kejayaan Islam dengan menggabungkan ajaran Islam dengan filsafat dan sains modern. Iqbal juga menekankan pentingnya kedinamisan dalam Islam, menjauhkan pandangan statis dan mendukung pandangan dinamik. Ia memperkuat ide ijtihad dalam Islam, menekankan pentingnya usaha keras dalam agama dan membentuk pemikiran bebas mengenai hukum. Iqbal juga aktif dalam bidang politik, memperjuangkan kemerdekaan India dan persatuan umat Islam dan Hindu. Namun, ia menolak nasionalisme Eropa karena melihat ancaman materialisme dan atheisme. Iqbal melihat bahwa konsep nasionalisme India akan sulit menyatukan Hindu dan Muslim, sehingga ia memperjuangkan pembentukan Negara Pakistan sebagai negara Islam terpisah. Ide ini kemudian diresmikan dalam rapat tahunan Liga Muslimin di tahun 1930, di mana Iqbal diakui sebagai Bapak Pakistan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline