Lihat ke Halaman Asli

Gina Magfirah

Book Reviewer

Review "Guru Aini" [Ngeracun]

Diperbarui: 24 April 2024   13:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

source: goodreads

"Kecerdasan itu misterius, Laila."

Judul: Guru Aini

Penulis: Andrea  Hirata

Halaman: 312 Hal (2020)

Sinopsis

"Ini persamaan hidupku sekarang, Bu," Desi menyodorkan buku catatan ke tengah meja. Bu Amanah, yang juga guru matematika, tersenyum getir melihat persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang didefinisikan sendiri oleh Desi, x1: pendidikan, x2: kecerdasan. Yang menarik perhatiannya adalah konstanta a: pengorbanan.

"Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah"

Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk.

Dalam kenyataan hidup seperti itu, seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya menjadi guru matematika di sekolah pelosok?

NGERACUN

[hanya untuk orang-orang yang oke dengan spoiler]

Lagi-lagi Andrea Hirata menggilas ide tentang pendidikan di dalam novelnya, Guru Aini menjadi prekuel untuk novel "Orang-orang Biasa" yang terbit di tahun 2019. Sebagai orang yang sebelum membaca novel ini belum membaca "Orang-orang Biasa", Guru Aini masih bisa dinikmati karena memiliki jalan cerita yang jauh berbeda. Novel ini masih bisa berdiri sendiri tanpa bayang-bayang "Orang-orang Biasa".

"Maka ini bukan melulu soal matematika, ini soal keberanian bermimpi."

Guru Desi yang merupakan lulusan matematika terbaik di angkatannya, rela menukar penugasannya ke daerah terpencil dari temannya. Hal ini karena kecintaannya pada matematika, ia mengemban tugas mengajar di tempat yang membutuhkan waktu 6 hari perjalanan, yaitu Kampung Ketumbi.

Sumpah Sepatu yang Guru Desi ucapkan menjadi awal mula pencarian Guru Desi terhadap jenius matematika.

Pokoknya, ambisi Guru Desi lahir dari pemikirannya bahwa jenius matematika yang akan ditemukan atau dilahirkannya nanti akan menjadi role model untuk anak-anak Ketumbi lain bahwa hal-hal yang mereka anggap tidak dapat raih pun nyatanya bisa mereka raih.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline