Lihat ke Halaman Asli

M. Gilang Riyadi

TERVERIFIKASI

Author

Melihat Masa Depan Indonesia dari Kasus Meninggalnya Suporter Persija

Diperbarui: 26 September 2018   12:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

image by indosport.com

Hal pertama yang akan saya sampaikan sebagai pembuka tulisan ini adalah... saya laki-laki tapi tidak begitu suka sepak bola. Well, sedikit aneh memang, mengingat mayoritas laki-laki begitu antusias ketika dihadapkan pada permainan ini ataupun sekadar mendukung tim kesayangannya. Bukan berarti tidak pernah main atau tidak punya tim unggulan, hanya saja menulis Kompasiana lebih terasa menyenangkan (Oke, ini ngeles).

Seperti yang Kompasianer tahu bahwa berita yang saat ini sedang viral adalah tewasnya salah satu supporter Persija, yaitu Haringga. Laki-laki yang sengaja datang ke Bandung ini harus menemui ajalnya sendiri ketika ingin menonton pertandingan tim favoritnya tersebut. Mirisnya, ia diperlakukan secara tidak manusiawi oleh oknum supporter Persib. Melihat video-nya saja saya tidak tega.

Nah, sebagai laki-laki yang tidak begitu menyukai sepak bola, hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah... Apa segitunya ya ketika kita punya tim favorit? Karena kalau dipikir-pikir, hal seperti ini sudah tidak wajar dilakukan oleh manusia. Tindakan kekerasan hingga menelan korban jiwa seperti Haringga itu sungguh brutal. Bayangkan saja, korban dipukul entah dengan puluhan atau ratusan orang hingga terluka parah (ya, yang akhirnya menghebuskan napas terakhir). Sempat berpikir, mereka semua kerasukan atau bagaimana, sih?

Kita dihadapkan oleh beberapa asumsi netizen yang tentu menuai pro dan kontra. Ada yang berkata, "Salah sendiri ngapain datang ke Bandung sampai harus update di medsos segala." Atau juga komentar seperti, "Bubarkan saja sepak bola Indonesia jika kejadiannya selalu seperti ini". Itu hanya sebagian kecil. Masih banyak komentar netizen atau mungkin para pembaca yang memiliki asumsi sendiri terkait melihat masalah ini.

Netizen (atau pembaca yang memiliki asumsi pribadi) tidak salah kok. Meskipun kalian juga tidak sepenuhnya benar. Ya, sama seperti saya yang menulis ini. Saya melihat dari sudut pandang saya yang bisa saja berbeda dari sudut pandang pembaca atau netizen.

Ketika saya melihat kasus ini, saya sudah lelah memikirkan mana yang benar/mana yang salah ataupun mana yang dibela/mana yang dicela. Mayoritas masyarakat punya pemikiran seperti ini. Mereka bisa berpihak pada satu spekulasi yang menurut mereka benar. Perdebatan para netizen di sosial media pun mulai ricuh. Ada yang bela si A, menyalahkan si B, sebaliknya, atau mungkin lebih rumit lagi.

Yang saya pikirkan adalah...

Akan seperti apa Indonesia di masa depan jika berkaca dari kasus ini?

Hal brutal semacam ini memang bukan kali pertama. Pada ranah sepak bola khususnya, sebelumnya pun pernah terjadi hal seperti ini. Tapi kasus tewasnya seseorang di luar sepak bola yang dikarenakan oleh ego pribadi dan rasa emosi sesaat ternyata tidak kalah tragisnya dari kasus Haringga ini.

Masih ingat dengan kasus kematian pria yang tewas dihajar masa karena dituduh sebagai maling? Padahal, ia meninggalkan seorang istri yang sedang hamil.

Masih ingat juga kasus ketika demo taksi konvensional yang begitu antusiasnya menyerang taksi online? Padahal, ada juga masyarakat biasa yang jadi korbannya karena disangka sebagai taksi online.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline