Lihat ke Halaman Asli

Perahu Kertas The Movie Akan Berlayar 2 Kali

Diperbarui: 25 Juni 2015   00:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cara terbaik menghadapi film ini adalah just take it easy like fall in love, Open your heart, let it happen Tidak perlu dipusingkan mana yang lebih bagus, novelnya atau filmnya Kalau kamu pembaca ya akan lebih suka baca Kalau kamu penonton ya akan lebih suka nonton Novel dan Film dua media yang berbeda, punya seni yang berbeda dalam menyampaikan cerita Meski penulis skenario sama dengan penulis novelnya yaitu Dee, ya rasanya tetap ada yang berbeda Filmnya memang lambat, tapi memang harus begitu Menurut saya, dalam novelnya pun bagian-bagian yang ada dalam film itu memang lambat Bahkan lebih lambat dan mengalun saat di novel Biarlah begitu, biar haru saat nanti perahu berlabuh di bagian ke 2 dari film ini Di bagi 2 karena hasil akhir 4 jam sekian dan bisa jadi rugi kalau dipaksakan 4 jam. Ya tidak apa, daripada harus menonton drama 4 jam, rasanya penonton Indonesia belum siap menonton drama 4 jam, termasuk saya. Dipotong dibagian yang pas, karena kisah selanjutnya seperti tahap lain dari kehidupan masing-masing tokohnya. Tahap yang lebih banyak konflik, tahap penyelesaian, akhir labuhan dari si perahu kertas. Film ini mengingatkan kembali rasanya jatuh cinta, kebimbangan, rasa penasaran, ketidakberanian Bukan melulu soal cinta, tapi juga tentang passion, impian, dan orang lain yang melengkapi ; mendukung ; meyakinkan semuanya bisa jadi nyata. It's about dreams and the fun of being clueless about love. Dialog-dialog romantis yang menghiasi film ini "kamu sudah pernah ada di hidupku saja sudah cukup, kalau gak mau kembali lagi juga gak apa-apa" -Luhde “Neptunus, semoga ada petunjuk jalan, cahaya, remah roti, atau apa pun yang menjadi petunjuk jalan untuk aku keluar dari sini,” kata Kugy. Bicara sotoy soal setting, Setting yang paling saya suka adalah sekolah alit. Menggunakan barang-barang bekas, tapi tetap artistik Adegan Keenan dan Kugy bicara kekecewaannya pada Keenan yang sudah tidak percaya lagi pada mimpi. Aaah pas rasanya. Setting pantai Kugy dan Remi terlalu banyak warna hitam, Remi pun pakai kaos berwarna gelap. Rasanya akan lebih sweet klo banyak warna jingga kecil dari lampu-lampu kecil. Apalagi hubungan Remi dan Kugy ini hidup banget.

Nah warna seperti ini sweet sekali. Mungkin sengaja di buat Kugy dan Keenan lebih sweet ya.

Setting kamar Keenan dominan merah dan hitam, lukisan yang ada di dalamnya juga dominan merah dan hitam. Kalau dalam imajinasi saya, akan lebih banyak warna di dalam kamar Keenan yang seorang pelukis. Tapi mungkin memang warna hitam dan merah adalah warna yang ingin menjadi karakter Keenan. Beberapa kali Keenan memang mengenakan pakaian dengan nuansa merah, maroon, abu-abu dan hitam.

Nah lukisan-lukisan Keenan di scene-scene akhir adalah lukisan yang saya suka, yang ada dalam imajinasi saya saat membaca novelnya, warnanya banyak, beraneka. Saya suka lukisannya.

Dan gesture ; body language yang akan menjadi trend karena novel dan film ini adalah gesture radar Neptunus ala Kugy

Soundtracknya pun saya suka, tapi kemarin ke toko buku liat harga CD-nya Rp 50.000,- dan sudah 2 novel baru yang saya bayar, mungkin nanti akan saya beli. Secepatnya.

Seperti kalimat penutup dari Kugy dalam filmnya  :

"Hai Nus, manusia satu itu muncul lagi. Apa kabar ya dia? Tunggu perahu kertasku ya.. cerita ini belum usai.." Tulisan ini pun akan berlanjut ketika perahu kertas berlayar kembali untuk kali ke duanya nanti. Sumber Gambar dan kutipan dialog : dari berbagai sumber melalui Google

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline