Lihat ke Halaman Asli

Ghilan Hafizh

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Brawijaya

Ospek: Kegiatan Pengenalan Kampus atau Ajang Senioritas Belaka

Diperbarui: 4 Agustus 2023   01:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Iamage : patreon.com/Pinterest

Rasanya sudah tak asing lagi bagi kita dengan istilah ospek, entah para mahasiswa baru (maba) ataupun mahasiswa lama yang sudah merasakan. Saya sendiri mengenal istilah ospek sedari SMA yang sudah di gosip-gosipkan dengan berbagai rangkaian kegiatan yang terdengar memberatkan. 

Kata ospek sendiri merupakan akronim dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, yang dimana kegiatannya dibentuk sedemeikian rupa untuk membuat maba mengenal lingkungan kampus mereka.

Sayangnya kegiatan ospek ini masih sangat kental dengan rangkaian-rangkain kegiatan yang bahkan menjurus kearah perpeloncoan akhirnya menuai pro dan kontra.

Ada yang mengatakan kegiatan ospek dilakukan agar maba tidak kaget dengan dunia perkuliahan ada juga yang mengatakan kegiatan ospek seharusnya diganti dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan menyenangkan.

Walaupun memang rasanya kehidupan selama pandemi yang membuat segala aktivitas dilakukan secara daring sangat tidak mungkin sekali terjadi kekerasan fisik selama ospek berlangsung, tetapi kita tidak bisa menutup mata tentang apa yang sudah terjadi untuk dijadikan pelajaran agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. 

Mulai dari korban maba yang terkena gangguan mental sampai perpeloncoan yang tidak beradab seperti kejadian tahun 2019 lalu saat seorang mahasiswi mengunggah cuitan di twitter beserta dengan video yang dia rekam, terekam bahwa maba di sebuah universitas di Ternate saat itu satu persatu meminum air yang sudah disediakan panitia orientasi di dalam gelas air mineral, setelah itu meludahkannya kembali ke dalam gelas tersebut. Terlihat salah satu mahasiwi enggan melakukannya namun malah di soraki dan dibentaki yang akhirnya mereka tetap lakukan. Setelah video itu viral, pihak kampus menyampaikan permohonan maafnya atas kejadian tersebut.

Dari banyaknya alasan ketika mulai mengkritik kegiatan ospek yang cenderung kearah perpeloncoan itu mungkin yang dapat diterima adalah alasan mereka untuk melatih mental, tetapi sudahkah benar cara tersebut adalah cara untuk melatih mental?

Menurut Dra. Roslina Verauli, M.Psi. seorang psikolog terkenal di Indonesia mengatakan bahwa seseorang yang memiliki mental kuat adalah dia yang bisa dan mampu mengelola emosi positif dan negatif sebaik mungkin. Bukan yang selalu ada di emosi positif atau sebaliknya, tapi kepada siapa yang bisa dan mampu mengelola segala emosi yang dirasakan dengan sebaik mungkin. Dari pernyataan tersebut bis akita simpulkan bahwa seseorang yang bisa mengendalikan emosi lah yang memiliki mental yang kuat, bukan yang kuat karena terbiasa dan terpapar hal-hal yang cenderung keras.

Artinya bagaimana jika nantinya kekerasan atau perpeloncoan selama kegiatan ospek berlangsung malah justru memberikan kesan trauma kepada para maba, sehingga tak dapat diterima lagi jawaban-jawaban “untuk melatih mental”.

Apalagi pada tahun 2023 ini para maba harus siap untuk menghadapi kegiatan masa ospek yang akan mereka terima karena kegiatan-kegiatan ospek sudah mulai kembali dilaksanakan secara luring ataupun hybrid.

Lagi-lagi kembali pada kesadaran diri individu masing-masing, terutama para panitia pelaksana kegiatan ospek yang harus sadar akan tidak dapat dibenarkannya kegiatan ospek yang cenderung ke arah perpeloncoan, sehingga nantinya para maba akan lebih mendapat kebermanfaatan dari kegiatan ospek yang lebih positif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline