Lihat ke Halaman Asli

Yudel Neno

Penenun Huruf

Markus dan Rofina Tinggal di Gubuk Reot Ibarat Kandang Ternak

Diperbarui: 27 Maret 2019   15:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

iNewsNTT-Youtube

Rasa kemanusiaan pada prinsipnya tidak mengenal perbedaan. Siapapun dia, entah berbeda sekalipun, atas nama rasa kemanusiaan, perhatian patut diberikan. Apalagi untuk mereka yang tak berdaya, mereka yang terpinggirkan, mereka yang miskin, mestinya mereka menjadi prioritas dalam pembangunan kesejahteraan rakyat.

Sebagai generasi muda, saya sangat prihatin dengan kondisi rumah dan kondisi hidup dari kedua pasutri yang tinggal di gubuk reot ibarat kandang ternak, sebagaimana diliput dan ditayangkan oleh iNews NTT, 25/05/2019.

iNewsNTT-Youtobe

Saya tergerak hati dengan kondisi hidup kedua pasutri Bapak Markus Riu Sako (120) dan Ibu Rofina Olin (95), warga Dusun Niamuti, Desa Tniumanuk, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang tinggal di gubuk reot selama bertahun-tahun lamanya pasca ditinggalkan oleh keempat anaknya ke tempat rantauan.   

Memang, pertama sekali, keempat anak dari kedua pasutri lansia ini, kepada mereka patut disampaikan rasa penyesalan dan kekecewaan yang mendalam karena ibarat kacang lupa kulit. Seusai kedua orang tua melahirkan, membesarkan mereka, mereka lalu lupa dan hidup tanpa peduli di tempat rantauan.

iNewsNTT-Youtube

Kedua pasutri lansia ini, tinggal sendirian di gubuk reot yang kini terancam rubuh. Gubuk reot itu, tampaknya sangat tidak layak huni bagi seorang manusia. Ibarat kandang ternak, kedua pasutri itu memilih untuk tetap tinggal di tempat itu, karena faktor usia yang tidak memungkinkan untuk dilakukan suatu upaya lain dan juga faktor keterbatasan ekonomi.

iNewsNTT-Youtube

Paulina Eno, salah satu warga Desa Tniumanu, mengaku bahwa kedua orang tua ini sudah ditinggalkan oleh keempat anaknya sudah puluhan tahun lalu. Mereka sekarang ada di tempat rantauan. Lantas ia juga menandaskan bahwa dalam kondisi seperti itu, tidak ada pemerintah setempat yang berinisiatif untuk pergi menyaksikan kondisi rumah kedua pasutri lansia itu.

iNewsNTT-Youtube

Di samping itu, salah satu tokoh masyarakat, Daniel Heno menandaskan bahwa ia sendiri bersama masyarakat memang merasa sedih karena hidup ini akhirnya harus menjadi seperti itu. Ia juga menandaskan bahwa pemerintah pun tidak memberi perhatian. Pemerintah ke pemerintah tidak ada tambah, sama dengan kurang, pungkasnya.

iNewsNTT-Youtube

Kondisi rumah kedua pasutri lansia itu pernah disampaikan ke pemerintah desa setempat oleh masyarakat tetapi hingga saat ini belum ada tanggapan dan bantuan apapun. Warga masyarakat, berharap agar pemerintah berlapang dada untuk memperhatikan kondisi rumah dan kondisi hidup kedua pasutri lansia itu.

Sekiranya pemerintah setempat, di tengah kesibukan untuk membangun, perhatian kemanusiaan jangan dilupakan. Mungkin berlebihan kalau dilupakan, tetapi sekurang-kurangnya, kondisi hidup seperti itu, sudah semestinya diatasi oleh pemerintah setempat, sekurang-kurangnya oleh pemerintah desa setempat.

Saya menilai, ada suatu kemunduran besar dalam rasa kemanusiaan, ketika para pemimpin negeri ini terkesan tidak peduli dengan kondisi hidup rakyatnya seperti yang dialami oleh Bapak Markus Rius Sako dan Mama Fofina Olin.

Sekiranya, para pemimpin, masyarakat, dan juga saya yang menulis ini, dengan kondisi hidup kedua pasutri itu, kita semua disadarkan akan pentingnya rasa kemanusiaan terhadap sesama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline