Lihat ke Halaman Asli

Fransisca Listiariny

Guru MAN 4 Bantul

Goyang Lidah di Jogja Istimewa

Diperbarui: 8 Maret 2021   20:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna ... Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja". 

Penggalan lagu "Yogyakarta" yang dinyanyikan oleh Kla Project yang membuat diriku selalu rindu dengan kota kecil dengan multikulturalisme tinggi ini. Hanya di kota ini kita dapat melihat berbagai kebudayaan Indonesia yang berbeda membaur menjadi satu.

Tapi, ada yang berbeda dengan Jogja saat ini. Kota yang populer dengan "Jogja Berhati Nyaman" perlahan mulai terkena dampak modernisasi yang mengatasnamakan pembangunan. 

Salah satu hal yang membedakan Jogja yang dahulu dan sekarang adalah jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor yang drastis. Bahkan, dominasi kendaraan berplat AB semakin menunjukkan penurunan dibanding dengan kendaraan dari daerah lain. 

Jika diperhatikan, mengapa sulit menemukan angkot atau bis umum di Jogja?  jawabannya adalah, karena Jogja memang di desain sebagai kota nyaman yang akses dari satu tempat ke tempat lain dapat kita lalui dengan mudah dan dekat. Tidak heran becak dan andong masih menjadi primadona di kota kecil ini bila kita berada di Malioboro pusatnya kota Jogja.

Dahulu, cukup membutuhkan waktu 10 menit untuk pergi ke suatu tempat di dalam kota. Dengan jalanan Jogja yang macet sekarang, harus berangkat satu jam lebih awal untuk pergi ke tempat yang akan kita tuju. 

Sopan santun lalu lintas juga terlihat berkurang di kota ini, klakson yang dihidupkan sebagai bentuk kesopanan sebelum menyalip pengendara lain berubah menjadi srobot-srobotan penuh emosi antar pengendara sepeda motor. Jalanan kecil kota Jogja yang mampu membuat waktu terasa pelan, kini penuh dengan kemacetan mobil seperti yang terlihat di kota-kota besar lainnya.

Perubahan yang terjadi di kota Jogja tidak mengubah karakteristik warga Jogja yang sederhana dan menghargai seni budaya dan sikap ramah yang jarang kita temui di kota lainnya. 

Seperti di pasar tradisional, di sini kita bisa merasakan kehangatan para pedagang pasar ketika sedang "tawar-menawar" dan merasakan ketulusan warga Jogja yang tidak ternoda oleh pikiran "mencari untung sebanyak-banyaknya". 

Kemudahan dan kelengkapan minimarket ataupun supermarket berjejaring memang tidak dapat dipungkiri lagi, tapi bukan berarti kita harus beralih meninggalkan pasar tradisional. 

Dengan segala perubahan yang dialaminya, Jogja tetap menjadi tempat yang nyaman untuk para penghuninya. Namun, menjaga kota kecil yang penuh dengan kekayaan budaya ini tentu menjadi tanggung jawab kita bersama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline