Lihat ke Halaman Asli

Fitria Nur S

Mahasiswa

Paradigma Integrasi dalam ilmu antropologi: Melihat Keberagaman Lewat Kacamata Antropologi

Diperbarui: 16 Desember 2024   23:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(rawpixel.com)

Integrasi paradigma Bayani, Burhani, dan Irfani adalah konsep penyatuan tiga pendekatan epistemologi Islam yang berakar pada tradisi keilmuan Islam klasik. Ketiga paradigma ini memiliki karakteristik dan metode yang berbeda, namun saling melengkapi untuk memberikan pemahaman yang holistik tentang ilmu pengetahuan

Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia secara menyeluruh, termasuk aspek fisik, budaya, perilaku, dan kehidupan sosialnya. Ilmu ini berusaha untuk memahami keragaman manusia, baik dari segi bentuk fisik maupun kebudayaannya, serta bagaimana manusia bisa hidup dan berinteraksi dalam masyarakat. Tujuannya agar mendapatkan wawasan yang lebih luas tentang  perkembangan, perbedaan, dan kesamaan umat manusia di seluruh dunia.

Aspek Bayani:

Pendekatan yang menjelaskan suatu hal dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an, di mana teks tersebut menjadi fokus utama dan sumber ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, pendekatan ini menggunakan isi dan makna dari ayat-ayat Al-Qur'an untuk memberikan pemahaman atau penjelasan tentang suatu fenomena tertentu. Surat Al Hujarat ayat :13

"يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ"

Artinya:"Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al-Hujarat: 13)

Aspek Burhani:

Ayat ini menunjukkan bahwa semua manusia  dari asal yang sama, yakni seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa). Secara logis, hal ini menegaskan mengenai kesetaraan manusia tanpa memandang bangsa, suku, atau ras. Ayat ini juga  menyebutkan jika manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal (lita’arafu). Dari perspektif Burhani, ini bisa diartikan bahwa perbedaan budaya dan identitas sosial bertujuan  membangun pemahaman dan harmoni antar manusia. Selain itu dijelaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah bukan hanya pada status sosial atau keturunan, tetapi pada tingkat ketakwaannya. Secara rasional, ini menegaskan pentingnya kualitas moral dan spiritual dalam menentukan nilai manusia, bukan secara atribut fisik atau material.

Aspek Irfani:

1. Menghargai Perbedaan:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline