Lihat ke Halaman Asli

Firda Audina

Mahasiswa

Overthinking dan Perspektifnya dalam Islam

Diperbarui: 14 Desember 2022   08:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi overthinking. (Sumber dokumen: mediaindonesia.com)

Dilakukan secara sadar maupun tidak, banyak orang yang memikirkan banyak hal secara berlebihan dan tidak diketahui kepastiannya apakah akan terjadi atau tidak kedepannya. Hal ini dilakukan tidak hanya oleh orang dewasa namun hal ini juga dilakukan oleh para remaja. Memikirkan banyak hal secara berlebihan juga biasa disebut dengan overthinking. Overthinking adalah istilah untuk seseorang yang memiliki banyak pemikiran atau bahkan terlalu memikirkan hal-hal kecil yang dipikirkan terlalu dalam atau berlebihan. Dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani, masyarakat mengalami banyak jenis pemikiran ulang. Misalnya, berpikir berlebihan tentang masa depan. Tanpa pemahaman, masih banyak orang yang suka terlalu memikirkan masa depan, terkadang kita memikirkan hal-hal yang mungkin tidak akan terjadi di masa depan.

Overthinking berasal dari kata "over" dan "thinking". "Over" yang berarti terlalu, sedangkan "thinking" yang berarti pikiran, pemikiran. Sehingga dapat disimpulkan, Overthinking adalah perilaku berpikir berlebihan sebagai reaksi seseorang yang lahir dari keadaan yang berbeda. Di dalam islam sendiri overthinking berkaitan dengan rasa cemas, takut, pesimis, sehingga mendekati berburuk sangka. Karena pada saat overthinking, muncul prasangka dan kekhawatiran hingga bayangan kemungkinan-kemungkinan buruk terhadap sesuatu yang membuat seseorang cemas dan takut. Maka sebab itu, overthinking merupakan hal yang sebenarnya tidak baik dan tidak dianjurkan dalam islam.

Overthinking bisa disebabkan karena adanya bisikan syaitan yang menjadikan manusia merasa buruk, selain itu hal ini juga bisa disebabkan karena belum sepenuhnya manusia memiliki sikap tawakal dan bergantung hanya kepada Allah. Hal ini diperkuat oleh surat An-Nas: 4 yang artinya : "Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi." Kata "was was" bermakna godaan yang masuk ke dalam jiwa manusia dan seringkali berulang juga merupakan perbuatan syaitan untuk mengganggu manusia. Sedangkan, kata "khannas" merupakan sifat dari syaitan yang sering bersembunyi ketika manusia mengingat Allah. Syaitan dapat membisikkan kelemahan pada dada manusia dengan sangat halus. Begitu tersembunyinya godaan syaitan terhadap hati manusia, maka menjadi sangat lekat dengan prasangka.

Manusia dilarang oleh Allah SWT untuk berprasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang." 

Ayat ini menerangkan konsep "suudzon" berburuk sangka baik terhadap dirinya sendiri, orang lain dan Allah. Sikap ini muncul karena sering terburu menilai atau memikirkan suatu kejadian yang belum tentu jelas, atau disebut juga kurang tegas dan bijaksana dalam menyikapi suatu kejadian. Prasangka buruk yang terus berulang dapat menyebabkan ketidakbersyukuran terhadap dirinya sendiri maupun lingkungannya, perilaku yang muncul juga akan semakin jauh dari akhlak Islam yang diajarkan, misalnya tidak berbangkit dan bersegera dalam kebaikan hanya karena keraguan atau ketergantungannya kepada selain Allah SWT.

Khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi merupakan hal yang wajar dilalui manusia namun perasaan khawatir akan buruk ketika perasaan tersebut mengganggu seseorang baik secara kognitif, hingga psikis dan berujung pada perilaku ragu-ragu dan gelisah akan sesuatu hal. Allah SWT telah merencanakan jalan kehidupan seseorang yang terdapat ketetapannya disebut sebagai qada. Adapun takdir merupakan perwujudan dari ketetapan qadha Allah yang dapat disebut sebagai qadar. Allah menentukan ketetapan namun manusia diberikan kesempatan dalam mengusahakan dan memperjuangkan takdir baiknya.

Mencegah terjadinya overthinking bisa dengan mengkombinasikan konsep islam dan metode intervensi psikologi yang telah teruji keefektifannya. Bisa juga dengan cara mengubah cara berpikir kita secara koordinatif, perasaan, persepsi dan perilaku kita pun juga mempengaruhi pikiran. Misalnya konsep tawakal, ridha, husnudzan dan sabar terhadap masalah yang dihadapi bisa dilatih secara terus menerus untuk diterapkan terhadap pola berpikir.

a. Mendekatkan diri kepada Allah, beribadah dan mendekatkan diri kepada tuhan dapat membuat kita lebih tenang serta memasrahkan segala sesuatu kepada tuhan akan meringankan beban kita.

b.   Temukan apa yang menyebabkan overthinking, cari tahu permasalahan apa yang membuat kita overthinking dan melihat semuanya dengan sudut pandang yang lebih luas sehingga dapat berfikir secara jernih dan positif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline