Kasus anak R siswa kelas VII SMP membakar sekolahnya di Temanggung Jawa Tengah itu tak bisa serta merta dikaitkan dengan kemampuan anak mengelola emosi, Topik Pilihan Kompasiana itu seharusnya menitikberatkan pada soal perundungan.
Karena, akar masalahnya itu bukan tentang mengelola emosi, tetapi perundungan atau bullying yang dilakukan teman-teman sekolahnya dan beberapa orang gurunya, mungkin kalau ia tak di bully oleh teman-temannya dan diperhatikan oleh gurunya kasus itu tak akan terjadi.
Itu yang sebenarnya harus disorot, bagaimana cara kita mengeleminasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya perundungan.
Siapapun, apalagi seorang anak yang baru mau beranjak remaja yang oleh ahli psikologi disebut berada dalam fase labil secara mental, kalau terus menerus dirundung oleh orang-orang dilingkungan terdekatnya, sehebar apapun kemampuan dirinya dalam mengelola emosi, "kena mental" juga akhirnya.
Kalaupun mau mengelola, yang pertama harus dilakukan adalah bagaimana mengingatkan semua pihak terutama anak-anak agar tidak melakukan perundungan terhadap orang lain itu dulu kalau mau dibahas.
Fakta kok, lembaga pendidikan tempat R bersekolah terlihat tak memiliki awarness terhadap bahayanya perundungan, malah Kepala Sekolah-nya menyebut R itu caper, seperti yang saya kutip dari Kompas.TV.
Keterangan itu diperkuat oleh pihak ,Federasi Guru Seluruh Indonesia (FGSI) melalui Ketua Dewan Pakar-nya, Retno Listyarty, seperti dilansir CNNIndonesia, pihak sekolah tak memahami kondisi psikologis R selaku korban perundungan, terlihat dari keterangan-keterangan yang mereka sampaikan dalam beberapa kesempatan terkait kasus tersebut.
Menurut catatan FGSI, sepanjang Januari hingga Mei 2023 terdapat 12 kasus berdampak besar terkait perundungan pada anak, bahkan di Medan hingga menimbulkan korban Jiwa.
Makanya, Retno menyebut perundungan atau bullying yang terjadi saat ini, sudah sangat mengkhawatirkan dan berat karena sudah menimbulkan korban jiwa.
Oleh sebab itu, semua pihak harus bergerak bersama agar perundungan tak terus menerus terjadi.
Mengapa sih perundungan itu terus terjadi dan intensitasnya semakin mengkhawatirkan?