Lihat ke Halaman Asli

Konstruksi Monstrous Feminine dalam Industri Film di Indonesia

Diperbarui: 29 Oktober 2022   18:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Industri film di Indonesia sudah sangat berkembang dewasa ini. Penggambaran setiap karakter dibungkus begitu sentimental dan mewakili standar yang matang. Pertumbuhan industri film Indonesia semakin menignkat ditandai semakin banyaknya produksi dilm dalam negeri selaras banyaknya pertambahan penonton.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diingat dan digarisbawahi dalam industri film di Indoensia. Pada tahun 2020, Asosiasi Pengkaji Film (KAFEIN) melakukan sebuah penelitian tentang bagaimana ketimpangan gender dalam industri film di Indonesia. 

Hasil menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam sembilan profesi kunci produksi film tidak lebih dari 20 persen. Bahkan, perempuan penerima penghargaan dalam ajang festival film Indonesia sejak tahun 1955 tercatat hanya 8 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan gender dalam industri film di Indonesia masih sangat besar. Hal ini tidaklah lain bukti nyata bahwa implikasi budaya patriarki masih sangat kental di indutri film Indonesia. Bahkan, bias tersebut mengakar dalam industry film di Indonesia. Tanpa disadari, hal ini mengarah kepada perwujudan  monstrous feminine terhadap perempuan.

Toeri Monstrous Feminine pertama sekali dikemukakan oleh Creed (2003) dan Teori Abjek dari Kristeva (1982). Toeri ini membahas bagaimana representasi monstrositas perempuan dan bagaimana perempuan digambarkan sebagai ular dalam narasi novel. Monstrositas perempuan muncul ketika perepmpuan menolak hidup dalam lingkungan ideologi patriarki. Perempuan digambarkan sebagai sosok yang buruk dan menjadi bias akan ketakutan laki-laki.

Howe (2014) menambahkan bahwa representasi perempuan monster dan tubuh perempuan awalnya muncul dalam karya sastra genre roman di abad pertengahan yang menganggap perempuan hanya digunakan untuk mengukuhkan identitas ksatria tokoh laki-laki dan menunjukkan Batasan feminitas dan maskulinitas.

Perempuan dianggap sebagai kaum marginal, warga kelas dua, dan abjek. Terlebih perempuan sering dikatakan tidak memenuhi nilai-nilai feminitas dalam sistem partriarki. Perempuan yang tidak memenuhi stander tersebut akan disebut buruk. Konstruksi ini  sangat sering dijadikan alasan dalam industri film di Indoensia.

Sebagai contoh, dalam film Pengabdi Setan perwujudan perempuan monster sangat tampak. Apabila diulik dari latar film tersebut yang menunjukkan tahun 1980 memberi tanda bahwa emansipasi perempuan masih kurang massif. Peran "Ibu" dalam film itu tidaklah lebih dari seseorang yang gagal dalam merealisasikan makna "perempuan" kala itu yakni melahirkan keturunan. 

Sosok "Ibu" sudah dianggap gagal dan digambarkan sebagai monster dan menjadi sesuatu yang dapat menakuti pihak laki-laki. Bagaimana penggambaran sosok "Ibu" yang menjadi penggangu melalui adegan balas dendam adalah implikasi dari monstrous feminine.  

Selain itu, di film Ratu Ilmu Hitam menggambarkan sosok perempuan yang melanggar definisi patriarki. Perempuan yang memiliki ilmu atau kemampuan akan sebuah hal dianggap melawan aturan dan diobjektifikasi mejadi sosok monster. Stigma terhadap perempuan sering sekali lahir dari penggambaran akan perempuan itu sendiri.

Hal ini juga berhubungan dengan bagaimana media mencari hal yang dapat dikomodifikasi dan dijadikan target komersial yang tidaklah lain penggunaan perempuan menjadi objek. Jika dikaitkan dengan Teori Kritis, media sering sekali memecah belah bagian tubuh dari perempuan untuk mencari perhatian. Karena pada dasarnya, realitas sosial mengarahkan bahwa perempuan mampu mengunggah emosi dan atensi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline