Tembus Pandang ke langit biru
Aku tersipu malu
Secarik kertas kurobek pada diary itu
Kupital kata demi kata
tinta hitam mulai memenuhi ruang
Tuhan ku kirim surat untuk-Mu
Ku memesan untuk menjadi tulang rusuknya
Anganku terbang bersama hiruk-pikuk angin
Saatku bersandar pada kayu balai kampung
Ku tengok permukaan sungai menggambarkan wajah cintaku
Seolah merestui hatiku